Kamu Punya Peta? Aku Tersesat di Matamu

Ada tatapan yang sekadar lewat.

Ada tatapan yang singgah sebentar, lalu pergi seperti angin.

Tapi ada juga tatapan yang terlalu dalam.

Begitu dalam, sampai-sampai kita lupa jalan pulang.

Di sana ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Seperti buku yang ingin terus dibaca, meski halaman-halamannya belum tentu selalu indah.

Seperti kota yang ingin terus dijelajahi, meski terkadang jalanannya penuh tikungan.

Orang bilang, mata adalah jendela jiwa.

Tapi bagaimana kalau aku bukan hanya melihat dari jendela?

Bagaimana kalau aku justru tenggelam di dalamnya?

Aku butuh peta.

Bukan untuk pergi, tapi untuk menemukan jalan yang membuatku tetap ingin tinggal.

Karena tersesat di matamu, adalah satu-satunya perjalanan yang tidak ingin kutemukan ujungnya.