Menjadi pintar dengan membaca pintar

Orang yang pintar hampir dapat dipastikan suka membaca. Melalui membaca, anda akan menemukan berbagai macam informasi yang belum pernah anda dapatkan sebelumnya. Namun, terkadang anda sulit memahami isi sebuah buku. Oleh sebab itu, sebaiknya anda mulai belajar cara membaca yang pintar.

  1. Bacalah terlebih dahulu bagian-bagian penting buku yang akan anda baca. Mulailah dengan membaca resensi buku, biografi penulis, kata pengantar dan daftar isi. Keempat hal tersebut dapat memberikan anda gambaran mengenai kualitas buku yang akan anda baca.

  2. uuubahlah segala macam kebiasaan buruk anda dalam membaca. Hindari kebiasaan-kebiasaan sepertti; membaca sambil menggerakkan bibir, menunjuk tulisan dan membaca dengan suara yang keras. Semua hal tersebut dapat dapat memboroskan waktu anda membaca.

  3. mulailah berlatih membaca dengan cepat. Melalui membaca cepat, anda dapat menghemat waktu membaca. Selain itu, kecepatan membaca anda pun akan terus meningkat. Salah satu caranya adalah dengan mengabaikan kata-kata Bantu seperti; di, ke, dari, dan, atau, serta yang. Tujuannya adalah agar teks yang anda baca semakin ringkas dan mempersingkat waktu membaca.

  4. bacalah buku per paragraph secara teratur. Jangan melompat ke paragraf selanjutnya sebelum anda menyelesaikan paragraf yang awal. Setelah selesai membaca beberapa halaman dari buku tersebut, tanyakanlah kepada diri anda beberapa pertanyaan dari bacaan tersebut. Jika anda belum dapat memahaminya, bacalah buku tersebut sekali lagi.

  5. temukan ide pokok pada buku yang anda baca. Setelah itu, bacalah lebih kritis, sika perlu siapkan catatan kecil untuk bagian bacaan yang perlu diingat. Melalui cara membaca seperti ini,pemahaman anda akan buku tersebut akan lebih mendalam lagi.

  6. cobalah konsentrasi dalam membaca bacaan yang cukup berat. Fokuskan pikiran pada setiap kata-kata yang sulit. Jika perlu, carilah arti dari kata-kata sulit tersebut dalam kamus.

  7. gunakan setiap waktu luang anda untuk membaca. Usahakan anda selalu mebawa buku bacaan yang seukuran dengan saku atau surat kabar. Tujuannya agar anda dapat membaca buku tersebut kapan saja dan dimana saja. Hasilnya, anda akan bertambah pintar dan waktu pun tidak terbuang sia-sia.

post-editing from kompas, Rabu, 22/10/2008

Doa; sesuatu yg terjawab tanpa jawaban..

Saya memohon diberi Kekuatan...
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat saya Kuat.

Saya memohon agar menjadi Bijaksana...
Dan ALLAH memberi saya Masalah untuk diselesaikan.

Saya memohon Kekayaan...
Dan ALLAH memberi saya Bakat,Waktu,Kesehatan dan Peluang .

Saya memohon Keberanian…..
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Rasa Cinta...
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu.

Saya memohon Kelebihan...
Dan ALLAH memberi saya jalan utk menemukannya.

“Saya tidak menerima apapun yang saya minta..
.......Akan tetapi saya menerima semua yang saya butuhkan "

Makassar, 29 Oktober 2008

Bake’ Belata dan Ceceta dalam konteks kekinian

83. qur’an hadits landasan kita
Bukan petunjuk bake’ belata!!!
Ataupun ceceta ramalan belaka
I’tiqad suci harus dijaga

(al-magfurlah dalam wasiat renungan masa)

Bake’ belata, sebuah istilah Sasak untuk Setan dan Jin yang jahat. Jika kembali kepada kisah para Jin jahat yang ‘mencuri’ ilham dari langit, sehingga ‘ditampar’ oleh petir Tuhan, maka merekalah yang mencoba memberikan pengetahuan ‘kebenaran’ yang mengalami proses saringan hawa nafsu dan kezaliman. Manusia secara tidak sadar bertaklid pada hembusan cerita-cerita mereka, seakan bahwa itulah suara Tuhan.

Bake’ belata, juga dapat diistilahkan pada sikap manusia yang menyerupai tingkah laku Bake’ itu sendiri. Perilaku-perilaku yang menyimpang dari ajaran Qur’an dan Hadits, namun diklaim sebagai ajaran kebenaran dari Tuhan. Pendek kata, Bake’ belata tak ubahnya seperti ular yang melata dalam sanubari kita, senantiasa menghembuskan racun ‘ingkar’ agar kita berpaling dari kebenaran hakiki.
Selang beberapa tahun ini, umat muslim Indonesia dihentakkan dengan kabar-kabar ‘Bake’ belata’ itu. Ada Lia Aminuddin yang mengaku sebagai malaikat penyelamat bahkan mengaku sebagai wakil Tuhan. Ada juga yang mengaku sebagai Nabi penyelamat umat. Jika benar mereka mendapat ‘bisikan wahyu’ dari Tuhan, lalu malaikat mana yang berani melangkahi tugas Jibril menyampaikan risalah wahyu? Dimanakah letak kebenaran bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir dengan risalah yang telah sempurna sebagaimana ajaran Qur’an dan Hadits?
Bake’ belata, sekali lagi, adalah paling pintar berakting sebagai malaikat kepada mereka yang tidak jernih imannya. Iman adalah sesuatu sistem yang terstruktur dalam hati kita yang bukan bersumber dari pembenaran empiris (indera) semata. Ia adalah sebentuk keyakinan yang mengakui bahwa Allah itu ada dan tiada berbilang.
Harus diakui, kehebatan metodologi Barat dalam point of enquiry (penjelajahan) ilmu pengetahuan. Epistemology empirisme (baca=ilmu yang terstruktur tentang cara mendapatkan sesuatu dengan penginderaan) diagungkan sebagai salah satu metodologi pembenaran terhadap sesuatu. Lalu, benarkah itu jika ditinjau dari perspektif Islam? Metodologi itu bukanlah hal baru. Bahkan nabi Ibrahim pun dulu mencoba mengkajinya, namun ternyata tidak cukup meyakini sesuatu dari apa yang dia dengar, lihat dan rasakan. Simaklah kembali cerita al-Qur’an tentang pencarian Ibrahim, atau Musa yang ingin melihat Tuhan secara nyata. Para Nabi bertugas menyampaikan risalah dan menunjukkan kehebatan-Nya dalam dimensi mukjizat-mukjizat nyata. Semesta ini beserta isinya adalah bukti (approvement) adanya kebenaran yang mutlak (Allah).
Pelan-pelan namun pasti, Bake’ belata menggiring pemikiran kita pada klaim kebenaran yang berlandaskan pada epistemology empirisme ansich, bahwa kebenaran adalah apa kita lihat, dengar, rasakan bahkan apa yang kita fikirkan. Dan kita mungkin lupa, bahwa mata kita hanya mampu melihat seberapa jauh, telinga hanya dapat mendengar gelombang suara dengan batas tertentu, lidah juga memiliki batas bahkan akal kita pun tak luput dari keterbatasan. Keseluruhan indera hanyalah media pembuktian atas kebenaran ilmiah, tapi bukanlah standar kebenaran itu sendiri.

Simaklah kembali permintaan Musa dalam QS. Al-Baqarah ayat 260 ;

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Terjemahnya :
Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)..

Bisikan Bake’ Belata sekarang bisa saja menjelma menjadi tulisan-tulisan di Surat kabar, Buku, Jurnal Ilmiah bahkan internet. Ia juga dapat menjadi tontonan-tontonan di televisi atau menghiasi siaran radio. Bake’ belata bahkan mungkin ikut mengalir pada ceramah ustad-ustad ‘instant’ yang semaunya menyitir ayat untuk kepentingannya, atau para politisi yang memberi janji-janji kemakmuran semu.
Iman seharusnya mengakar dalam diri kita dan mengalir bersama darah kita. Ia bukanlah sekedar polesan seperti lipstick atau jilbab modis nan seksi, ia bukanlah seperti jargon-jargon kampanye atau dialektika ceramah yang menawan namun tak berisi.
Bake’ belata bahkan telah merasuki anak-anak kita. Cobalah bertanya pada mereka yang acara mengajinya diganti dengan menonton TV, mereka yang mengganti waktu belajarnya dengan Playstasion. Siapakah manusia-manusia yang hebat? Jawaban mereka bisa saja beragam, dari Superman, Batman, Dragon Ball, Naruto, dll. Lalu, tanyalah mereka, apakah mereka kenal Ali bi Abi Thalib, Khalid bin Walid, Umar bin Al-Khattab, Shalahuddin al-Ayyubi atau bahkan Nabi Muhammad Saw sekaligus. Para pembaca bisa menebak sendiri jawaban mereka selanjutnya.
Bake’ Belata telah dan sedang merasuk ke dalam media yang di-impor ke Negara kita. Jepang membius anak-anak dengan film-film kartun heroik dan futuristik, India menyajikan film-film senandung dan goyangan khas yang melenakan, serta Eropa dan Amerika yang tak henti memproduk para akademisi dan pemikir yang menghasilkan karya-karya yang menjajah pemikiran kita bahkan mengaburkan iman kita. Pada tahap ini, cerita-cerita dalam film itu tak ubahnya merupakan ceceta ramalan belaka. Ceceta zaman ini dapat dipahami sebagai cerita dalam film dan redaksi tulisan ilmiah sekalipun,karena tidak berlandaskan al-Qur’an dan al-hadits.
Media, termasuk buku, TV dan internet, tak selalu negatif jika kita arif menyikapinya. Bahkan ia akan menjadi sarana yang mendukung dan menguatkan keimanan serta memajukan perdaban kita.
Bake’ belata zaman ini, tidak seperti yang dulu, dapat diusir dengan membaca ta’awwudz atau ayat kursi. Sekarang ia lebih sakti dan kebal karena telah berubah wujud menjadi ceceta yang meninabobokkan umat islam agar terus tertidur.
Lalu bagaimana cara mengantisipasinya?
Bait ke-empat syair ini, al-Magfurlah mengajarkan kita agar selalu menjaga I’tiqad suci kita. Karena ia adalah sebenar-benar benteng dan ajian pamungkas. I’tiqad yang harus selalu dipegang dan dilestarikan umat Islam, agar selalu berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi landasan para ulama mazhab ahlussunnah wal jamaah dan khususnya bagi warga Nahdlatul Wathan, juga dalam konseptualisasi mazhab al-Syafi’iyyah dalam fiqhi kita.
Semoga kita memahami bersama, mengapa kita ditradisikan al-Magfurlah untuk ber-I’tiqad dengan ahlussunnah wal jamaah dan ber-fiqhi dengan mazhab al-Syafi’iyyah..

Makassar, 16 Oktober 2008

Dakwah; sebuah transformasi teks menuju konteks

33. Banyak sekali pandai membaca
Tapi tak pandai mengkaji yang nyata
Kitab yang gundul dibaca nyata
Di kitab berbaris hatinya buta

(al-magfurlah TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiat renungan masa)

‘ala man taqra’ zabura? (Kepada siapa akan kau bacakan Zabur?)

Sebuah pepatah lama Arab ini sebagai kritik otoritas da’i yang senang mengatur bahasa dan menikmatinya, bahkan agar kedengaran intelek dan ilmiah, dan tak menyadari apakah umat mengerti apa yang disampaikannya. Kitab Zabur, yang diberikan kepada Nabi Daud As merupakan kitab yang jika dibaca mampu menggetarkan alam semesta, membuat burung-burung terlena hingga tak sadar terjatuh dari pohon tempatnya bertengger. Relevankah hari ini jika para praktisi dakwah menyampaikan dialektika dengan ‘bahasa Zabur’ yang indah, namun tidak mewakili kebenaran yang dipahami umat?

Hemat saya, re-orientasi dakwah abad ini harus membumi hingga ke akar-akar problematika umat. Umat seakan mulai jemu dengan cerita-cerita indah surga dengan segala kenikmatannya atau ancaman neraka yang berkobar-kobar apinya. Marilah sejenak berfikir tentang berteriaknya perut mereka yang berhari-hari tidak makan nasi, tentang retaknya keharmonisan rumah tangga, tentang anak-anak mereka yang menangis tak bisa sekolah, tentang moralitas yang sedang di-dikte acara-acara sinetron dan infotainment, tentang mereka yang berebut mengantri untuk mendapat zakat hingga harus ada yang meninggal, atau bahkan tentang mereka yang saling berebut kuota haji karena semakin banyaknya orang-orang Islam yang kaya namun sama sekali tidak berfikir tentang kemiskinan tetangganya..

Dimanakah letak titik equilibrium-nya (keseimbangan)? Para kader yang lebih memilih berceramah di rumah-rumah orang kaya dan mesjid-mesjid kantor yang terkenal tebal amplopnya, atau mereka yang rela berjam-jam mengunjungi undangan ceramah di mesjid kecil di perkampungan kumuh yang hanya diupah dengan secangkir teh dan ubi goreng?
Guru kita tercinta, Al-Magfurlah Maulana al-Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid, jauh-jauh hari sebelumnya memberikan wasiat di atas. Memang, beliau tidak menulis banyak buku seperti rekan-rekannya dahulu di madrasah al-Shaulatiyyah Makkah, padahal beliau sangat capable untuk itu. Ketika Syaikh Yasin berkunjung dahulu ke Pancor, dengan sangat rendah hati al-Magfurlah memuji prestasi beliau yang memiliki banyak karangan, namun apa jawaban Syaikh Yasin? “Engkau memang tidak menulis banyak kitab-kitab, sahabatku. Namun engkau telah menulis kebenaran di setiap jidat (dahi) umat, dan aku merasa tidak sedemikan berhasil sepertimu walaupun dengan banyak tulisan..”

Lihatlah sikap tawadlu’ mereka. Al-Magfurlah yang hingga akhir hayat beliau tetap mengunjungi jamaah walau hingga harus dipandu karena sudah tidak kuat lagi berjalan. Beliau yang tidak memilih-milih apakah tempat pengajian harus mewah atau terisi banyak jamaah. Pengajian beliau cukup di lapangan-lapangan dan mesjid-mesjid, namun kedekatan kepada jamaah sangat kekeluargaan. Cobalah sekali lagi kita berfikir, ulama sekaliber beliau,ikhlas berdakwah di bawah terik dan hujan yang hanya dinaungi tetaring (daun kelapa yang dianyam) yang sering bocor dan berlubang, namun lihatlah antusias jamaah yang merindukan nasihat dan kebersahajaan beliau.

Wasiat di atas juga mengkritisi para kader yang pandai membaca kitab gundul serta hapal ayat-ayat dan ratusan hadits, namun tak pandai membaca kitab berbaris nyata. Hemat saya, al-Magfurlah menyiratkan kitab berbaris sebagai idiom tentang realitas kehidupan. Kitab gundul merupakan panduan dan harapan. Sedangkan realitas kehidupan adalah kitab berbaris. Dan al-Magfurlah mengajarkan kita tentang kearifan dakwah yang men-sinergi-kan harapan dan kenyataan. Di dalam setiap metodologi ilmiah, setiap peneliti diwajibkan menemukan masalah penelitian serta selisih antara harapan dan kenyataan. Karena dengan itu dapat memudahkan transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Al-Magfurlah, sebagaimana konsep Hasan al-Banna, telah menggariskan konsep-konsep tsawabit (ketetapan) dan mutagayyirat (hal-hal yang bisa berubah) dalam paradigma (cara pandang) keberagamaan kita.

Realitas kehidupan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat NTB, tak lepas dari banyaknya problematika. Potret kemiskinan, Pendidikan yang mahal dan tak berkualitas, pengangguran intelektual, degradasi moral anak muda, transformasi zakat yang tidak profesional, tingginya kasus kawin-cerai, hingga moralitas pejabat yang merampas pundi-pundi kesejahteraan umat. Para kader hendaknya professional sebagaimana ajaran Rasul Saw; 

1. Khathibu’n Nas ala Qadri uqulihim (Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka), 
2. Khathibu’n Nas bilughati qaumihim (Serulah masyarakat dengan bahasa kaum mereka), 
3. Anzilu’n Nas manazilahum (Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka)

‘ala kulli hal, al-Magfurlah menginginkan kita lebih peka terhadap realitas dan memiliki sense of humanity (rasa kemanusiaan), sense of solidarity (solidaritas), sense of belonging (rasa saling memiliki), sense of responsibility (tanggungjawab), serta profesionalitas sebagai kader yang akan menjembatani transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Tugas kita bukan hanya pintar berdialektika dan lantang diatas podium, namun lebih dari itu mampu merasakan masalah-masalah umat dan mencari jalan keluar bersama. Idealnya, pada level inilah dakwah diistilahkan dakwah partisipatif

Makassar, 8 Oktober 2008

Kampanye oh kampanye..

Bahasa menunjukkan budaya, dan budaya adalah identitas sebuah bangsa. Demikian sebuah idiom lama menggambarkan pentingnya entitas bahasa. Kampanye juga merupakan bagian dari bahasa dalam kamus politik. Kampanye merupakan sekumpulan retorika dan dialektika politik yang menyampaikan harapan dan cita-cita pengabdian kepada publik. Kampanye juga merupakan seperangkat nilai luhur optimisme para calon pemimpin yang akan setia menampung dan merealisasikan aspirasi publik dalam pentas kepemimpinan.

Antara harapan dan kenyataan acapkali terdapat selisih. Dalam dunia politik pun asumsi ini tetap melekat dan sulit untuk dipisahkan. Jika kampanye dilihat dari paradigma komunikasi, ia merupakan élan vital uji publik terhadap program-program Calon pemimpin. Selisih, sejurus dengan rumusan masalah dalam dunia penelitian akademik, merupakan masalah yang harus ditemukan pemecahannya. Sedapat mungkin selisih-selisih yang ada di antara harapan dan kenyataan itu diminimalisir,agar transformasi harapan bisa diwujudkan dalam kenyataan. Namun, dalam kampanye politik, para calon pemimpin cenderung menyampaikan harapan-harapan (baca;janji-janji) yang terlalu jauh berbeda dengan realisasinya, sehingga selisih yang seharusnya dikurangi atau kalau bisa dihilangkan, acapkali tidak dapat diwujudkan secara bertanggungjawab.

Kampanye, secara perlahan mengalami pergeseran makna yang cukup dilematis. Dari seperangkat prinsip ideal transformative menjadi tak ubahnya jargon-jargon semu. Retorika politik yang amanah dan professional hanya menjual janji-janji langit yang tidak membumi.

Kampanye oh kampanye..

Bahasa menunjukkan budaya, dan budaya adalah identitas sebuah bangsa. Demikian sebuah idiom lama menggambarkan pentingnya entitas bahasa. Kampanye juga merupakan bagian dari bahasa dalam kamus politik. Kampanye merupakan sekumpulan retorika dan dialektika politik yang menyampaikan harapan dan cita-cita pengabdian kepada publik. Kampanye juga merupakan seperangkat nilai luhur optimisme para calon pemimpin yang akan setia menampung dan merealisasikan aspirasi publik dalam pentas kepemimpinan.

Antara harapan dan kenyataan acapkali terdapat selisih. Dalam dunia politik pun asumsi ini tetap melekat dan sulit untuk dipisahkan. Jika kampanye dilihat dari paradigma komunikasi, ia merupakan élan vital uji publik terhadap program-program Calon pemimpin. Selisih, sejurus dengan rumusan masalah dalam dunia penelitian akademik, merupakan masalah yang harus ditemukan pemecahannya. Sedapat mungkin selisih-selisih yang ada di antara harapan dan kenyataan itu diminimalisir,agar transformasi harapan bisa diwujudkan dalam kenyataan. Namun, dalam kampanye politik, para calon pemimpin cenderung menyampaikan harapan-harapan (baca;janji-janji) yang terlalu jauh berbeda dengan realisasinya, sehingga selisih yang seharusnya dikurangi atau kalau bisa dihilangkan, acapkali tidak dapat diwujudkan secara bertanggungjawab.

Kampanye, secara perlahan mengalami pergeseran makna yang cukup dilematis. Dari seperangkat prinsip ideal transformative menjadi tak ubahnya jargon-jargon semu. Retorika politik tanpa sikap amanah dan professional hanya menjual janji-janji langit yang tidak akan pernah membumi..

Muslim Indonesia; sebuah kritik diri

Dikisahkan ada 4 mahasiswa kuliah doctoral di Australia. 4 sahabat ini bertemu dengan nasib dan perjuangan intelektual mereka. Masing-masing berasal dari Negara yang berbeda. Sebutlah Akira dari Jepang, John dari Filipina, Rakesh dari India dan Hamdan dari Indonesia.
Background mereka yang berbeda tampak dalam keseharian mereka. Akira dari Jepang, adalah seorang yang sedikit bicara tapi banyak kerja. Rakesh dari India, dikenal banyak bicara, tapi sambil giat bekerja. John dari Filipina dikenal terlalu banyak bicara tapi sedikit kerja. Dan yang paling unik dari empat sahabat ini adalah hamdan, berasal dari karakter bangsa yang dikenal “lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan..!!”
Ilustrasi di atas disampaikan penulis sebagai starting point tulisan ini yang mendeskripsikan ‘frame’ kemajuan suatu bangsa. Menurut pembaca, diantara mereka, siapa yang berasal dari bangsa yang paling payah?
Akira, di negaranya menyembah matahari. Rakesh di kampungnya menyembah patung. Sedangkan John, mungkin menyembahTuhan yang lain atau tidak sama sekali. Dan Hamdan adalah seorang muslim sejati, katanya. Sejak nenek moyang memang muslim..
Pertanyaan yang muncul adalah ada apa yang salah dengan bangsa ini yang punya penduduk Muslim terbesar di dunia?
Awal 70-an, intelektual dari IAIN menganalisis bahwa perkembangan bangsa yang tersendat-sendat ini karena paham akidah yang kita punya terlalu ‘jabariah’(menyerahkan semuanya kembali kepada Allah). Sedikit-sedikit ‘takdir’, atau memang ‘nasib’ lalu mau dibilang apa lagi. sedangkan kalau kita bongkar system akidah, diantara mereka, siapa yang punya akidah yang sistematis, logis dan metodologis?
Menurut hemat penulis, disini bukan terletak pada masalah akidah, tapi pada frame “social engineering” (rekayasa social). Sejak dulu, kita sering ikut pengajian, ta’lim, dll. Lalu kenapa bangsa ini kok gak maju-maju ya? Bukankah Islam itu bukan saja urusan langit, juga pokok ajaran yang ngurus masalah ‘perut” sedetail-detailnya. Kita, sejak dulu hanya “di-ta’lim” (pengajaran) melulu, gak pernah “di-tadbir” (manajemen).
Mungkin tulisan ini “terbaca” sedikit ekstrim, terdengar banyak mengeluh dan agak inferior. Namun, inilah realitas. Posisi muslim Indonesia sangatlah dilematis. Sumber daya yang melimpah, tapi ngurus kasus korupsi, pajak, tenaga kerja, dll tidak beres-beres. Bagi-bagi zakat saja harus ada yang ‘mati’, bagi-bagi sembako pun harus ngantri berjam-jam. Inilah bangsa yang penduduk miskinnya sampai 34 juta (datanya SBY-JK), tapi untuk pergi naik haji, orang-orang harus saling sikut kiri-kanan supaya dapat kuota, karena orang yang mampu berhaji meningkat drastic tiap tahun, walau mungkin naik haji berkali-kali..
Lalu, apa korelasi antara banyaknya penduduk miskin dengan naik haji di Indonesia?
Sekali lagi, kita hanya dita’lim, tidak ditadbir. Proses transformasi ajaran Islam selama ini hanya berorientasi pada masalah akhirat. Tapi, dinding antara kaya dan miskin sangat tinggi.
Ustad-ustad hadir layaknya polisi lalu lintas, seraya teriak,”itu haram, ini wajib. Itu dosa, ini pahala!!”. Memangnya, surga dan neraka punya mereka? Sejatinya, menurut penulis, para Da’i adalah “makelar akhirat”, “makelar transformasi social”, bukan seperti Polisi Lalu Lintas!!
Harus ada re-konseptualisasi metodologi dakwah dan cara ber-Islam kita, menurut hemat penulis. Umat harus diajak berfikir, bukan dijejali dengan iming-iming surga atau diancam neraka. Sembari para intelektual Muslim bekerja dan mengatur manajemen ke-Islam-an kita, mengatur zakat, memberdayakan ekonomi umat, mengontrol media, optimalisasi pendidikan, dll..
Sehingga, berbicara surga dan neraka, sungguh sangatlah jauh. Mungkin lebih dekat kalau para ustad mengajak umat memperhatikan tetangga, pergaulan dan pendidikan anak-anaknya, mencari nafkah dengan cara yang elegan (halalan thoyyiban), bersedekah jika merasa mampu, dll..
Mungkin tulisan ini terlalu garing, tapi inilah selisih antara harapan dan kenyataan.
Dalam sebuah riwayat, Rasul Saw telah memerintahkan Fatimah, agar jika memasak lauk, perbanyaklah airnya. Sehingga bisa dibagi ke tetangga, walau cuma kuahnya saja, karena dagingnya sedikit..
Lalu, jika ada orang naik haji, trus ada anak tetangganya tidak bisa beli buku, atau masih mendengar tetangga yang anaknya menangis meminta makan tapi tidak ada beras, maka sungguh, tidak diterima haji-nya. Dengan alas an-alasan tersebut. kalau boleh sedikit garing seperti ustad “Polisi”, maka, haram hukumnya bagi orang itu naik haji..!!
Semoga Ramadlan tahun ini, memberikan kesadaran dan ampunan bagi penulis khususnya, dan pembaca sekalian. Amin..

Makassar, 20 Ramadlan 1429 H.

Identitas; antara “apa” dan “siapa”

Di sebuah perusahaan, terbuka pendaftaran untuk sekretaris. Setelah beberapa seleksi, tinggallah tiga orang yang akan mengikuti tahap wawancara. Kemudian, Bos perusahaan itu mewawancarai satu per satu pendaftar. Pendaftar A diberikan pertanyaan, “jika anda diterima di perusahaan ini, apa yang anda bisa berikan untuk perusahaan ini?”, Tanya si Bos. Pendaftar A menjawab,”saya akan berusaha bekerja sampai memperoleh puncak karir tertinggi di perusahaan ini”. Bos itu mencatat,”ambisius, dipertimbangkan..”. Pendaftar B juga diberikan pertanyaan yang sama, kemudian ia menjawab,”saya akan berusaha bekerja agar perusahaan ini untuk terus maju hingga puncak kemajuan.” Bos itu mencatat,”penuh dedikasi, dipertimbangkan..”. Pendaftar C, juga diberikan pertanyaan yang sama, kemudian ia menjawab,”saya akan berusaha melaksanakan tugas saya agar bos mencapai puncak kesuksesan tertinggi,”ujarnya dengan penuh semangat. Bos itu kemudian mencatat,” calon pekerja yang sungguh-sungguh, diterima..”
Ilustrasi di atas mungkin terkesan negatif, namun dapat dipahami bagaimana seorang calon bawahan yang sadar dengan posisinya diterima di perusahaan itu. Demikian pula jika mengkaji posisi kita di hadapan Tuhan, bahwa kita semua adalah hamba Tuhan, hamba yang harus menyadari posisi (hak dan kewajiban).
Di negeri ini, kaum muslim memiliki budaya buka puasa bersama. Di sebuah komunitas Ikatan Pelajar Mahasiswa Lombok-Makassar (IPMLM) di sudut kota Makassar berkumpul para calon dokter, insinyur, politisi, pilot, tentara, polisi, dosen, dll. Masing-masing memiliki profesi berbeda dan berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Sejenak, suasana di rantauan begitu syahdu dan akrab. Tidak ada satupun menyombongkan atribut-atribut “administrative” bikinan manusia, semua dalam posisi kesadaran sebagai manusia..
Kiai, Politisi, Dosen, dll adalah atribut administrative, masih memiliki peluang besar untuk berbuat zalim atau korupsi. Jika atribut itu semua dilepas, dan kembali menyadari posisi sesungguhnya, bahwa bukan “apa” (profesi) kita, tetapi “siapa” (manusia) kita?? Akankah masih ada yang berniat berbuat zalim dan korupsi??
Kita, di bulan Ramadlan ini dididik untuk berdisiplin. Saatnya magrib, berbukalah. Jika sudah imsak, jangan coba-coba makan minum lagi. Dan Tuhan pun membuat ketentuan yang alami dan universal, bukan karena Jenderal maka ia harus berbuka lebih dahulu, atau Presiden maka ia boleh makan sampai melebihi imsak..Tuhan ingin kita menyadari posisi kita, bahwa kita semua sama di hadapan-Nya.
Sungguh sangat sempit jika diartikan beribadah maksimal di bulan Ramadlan dan menafikan bulan-bulan yang lain. Itu istilahnya “puasa mekanis”, hanya taat dan alim saat Ramadlan, tapi jika ia berlalu, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama.
Tengoklah para artis yang di infotainment, ada yang bilang, “sekarang kan bulan puasa, jadi saya dan kekasih saya sementara waktu tidak sering-sering bersama dulu, dan menutup aurat, biar lebih khusyuk puasanya..” atau para politisi di senayan yang mengurangi aktifitas kampanye (atau mungkin karena takut berdusta di bulan puasa ya?),dll.. kita terbiasa “menjaga ramadlan” dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, namun setelah usai, dilakukan lagi. Lalu apakah ini yang digariskan Tuhan?
Aah, semakin banyak tulisan juga bisa bikin prasangka yang tidak baik untuk orang (takut dosa, kan Ramadlan..hehe).
‘ala kulli hal, sebuah riwayat menyebutkan;
رحمه الله امرءا عرف نفسه من أين,وفى أين وإلى أين...
“Allah merahmati seseorang yang menyadari ia darimana, sedang dimana dan hendak kemana..”
Riwayat itu mengingatkan kita agar memiliki kesadaran ontologis (darimana), historis (sedang dimana) dan aksiologis (hendak kemana). Dan jika kita memilikinya, maka kita akan menjadi ‘manusia’ yang sesungguh-sungguhnya manusia..
Semoga dapat kita ambil pelajaran, amin..

Makassar, 23 Ramadlan 1429 H

elang dan anak-anak ayam; siapa kalah?

Dimana dan akan kemana Indonesia? Demikian tema opini Ahmad Syafii Ma’arif di harian Kompas (Sabtu, 18 Oktober 2008). Sebagaimana kutipannya dari buku Fareed Zakaria “The Post American World” (Mei 2008), bahwa tahun 1981 ada sekitar 40 persen penduduk dunia dengan penghasilan hanya satu dollar AS per hari, tahun 2004 tinggal 18 persen. Diharapkan pada tahun 2015 akan menurun sampai 12 persen. Di sisi lain, seorang Penulis Perancis, Emmanuel Todd dalam buku terkenalnya di tahun 2002: After the empire ; The breakdown of the American order, meramalkan keruntuhan AS. Prediksi Todd itu memiliki tolok ukur kuat pada prediksi sebelumnya terhadap keruntuhan Uni Sovyet tahun 1975 yang terbukti. 

Analisis Pak Ma’arif terhadap dua karya amat menarik. Jika todd meramalkan bahwa AS tinggal menunggu waktu runtuhnya, maka Fareed Zakaria beragumen sebaliknya. Argumen Zakaria tentang the rise of the rest (munculnya pusat-pusat kekuatan baru) yang akan menyaingi, bahkan akan mengalahkan AS, khususnya di bidang ekonomi dan investasi. AS bukan akan runtuh sebagai bangsa dan Negara, tetapi akan tertinggal dengan sejarah ‘kesombongan adidaya-nya’. Bukankah sekarang dana investasi terbesar di planet bumi ini ada di Abu Dhabi, pusat industri film terbesar di dunia bukan lagi di Hollywood (LA, Amerika), melainkan di Bollywood (Mumbai, India)? Gedung tertinggi ada di Taipei, sebentar lagi di Dubai. Perusahaan publik terbesar bukan lagi di New York, tapi di Beijing. Pesawat penumpang terbesar dibuat di Eropa, bukan di AS.

Dengan demikian, ke-adikuasa-an AS pasca perang dingin telah berakhir. Meski dalam segi militer, AS masih kuat, hulu ledak nuklirnya berjumlah 830 jika dibandingkan dengan China hanya 20. Ibarat seperti burung elang yang memiliki paruh tajam dan kuku yang kuat,tidak lagi ‘berkuasa’ terhadap anak ayam, karena anak ayam telah dan sedang tumbuh menjadi pejantan tangguh dengan taji dan kokoknya yang membuat elang kehilangan pamor kehebatannya. Sang elang sibuk mengasah kuku dan paruhnya seraya berkeliling ‘ronda’ dan menakut-nakuti makhluk lain. Ia lupa, anak ayam pun bisa tumbuh menjadi pejantan yang memiliki tubuh yang lebih besar dan taji yang lebih tajam.

Hegemoni ‘kemenangan’ AS dalam media.
Hemat saya, kampanye Obama-McCain tak ubahnya seperti film-film heroik AS yang jumawa atas kemenangan ‘palsu’ atas Vietnam. Produk-produk film Hollywood seperti Rambo, Faith of my fathers, dan sekian film-film tentang kehebatan AS di Vietnam hanyalah sekedar fairytales (dongeng) untuk me-ninabobok-kan bangsa-bangsa berkembang. Fairytales tentang kehebatan AS lainnya seperti di Libya, Sudan, Iraq, Afganistan, Kuba, dan lain-lain, sebentar lagi akan terhapus dengan sendirinya di buku-buku sejarah. Negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin kini sedang berlomba bangkit dari tidur panjang itu. Sebagaimana teori umum dalam metodologi kritik sejarah, bahwa fakta sejarah takkan pernah berubah, kecuali interpretasi kita terhadapnya yang bisa berubah-ubah. 

To be continued..

past, present 'n human

someday, our story will be told.
yesterday is a history,
today (present) is a gift
and tomorrow is dream..
don't ever put hope of what you will be tomorrows,
if you never do best of yours today,
never regret of what gone past,
'cause it's just shadows that halt you out of life,
it's a dynamic life,
what you did is lessons for today,
what you do is what you see trough tomorrows,
never give up 'till the last breath,
you could lost evertyhing,
except spirit..
and no one could brings tears to your eyes,
except yourself..

pancor-lombok,12 agustus 2008

Tantangan ilmu keislaman di persimpangan modernitas

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن
“Transformasi-kanlah mereka menuju jalan Tuhanmu,
dengan penuh kebijaksanaan dan supermotivasi positif,
dan sanggahlah mereka dengan jalan yang lebih metodologis…”
(QS.al-Nahl (16):125)

a. Pendahuluan
“… Why is the west coming to Islam?”
Pertanyaan ini muncul mengawali abad 21, di luar konteks agresi invasi Barat ke Timur, tanpa disadari berimplikasi pada transformasi budaya timur ke barat dan sebaliknya. Masyarakat Islam yang selama ini masih bermimpi tentang kejayaan masa silam dan kemajuan ilmu pengetahuan oleh pakar-pakar Muslim abad pertengahan, harus mulai bangkit ditantang realitas ghazwah al-fikr (perang pemikiran)
Sejak zaman Renaisance di abad 17 lalu, manusia memasuki “dunia baru”, dunia yang begitu berbeda dengan tatanan dunia sebelumnya. Alfin Tovler, futurolog yang membagi tiga tahapan perkembangan peradaban manusia, menyatakan bahwa manusia saat ini hidup di tengah periode masyarakat komunikasi yang berlangsung sejak 1970 hingga sekarang. Dalam kehidupan di dunia baru ini manusia mengalami proses transformasi – untuk tidak mengatakan revolusi seperti yang diistilahkan oleh Franz Magnis – yang begitu cepat dan mencengangkan. Hasil olah sains dan teknologi canggih yang diciptakan manusia membuat sesuatu menjadi mudah, tidak berjarak dan tidak tersekat oleh waktu dan tempat. Semuanya dapat dilampaui oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hikmat Budiman dengan sinis menyatakan, bahwa canggihnya kehidupan modern belum, bahkan tidak terjangkau oleh mimpi-mimpi paling liar sekalipun pada masyarakat primitif (Budiman,1997).
Kecanggihan ilmu pengetahuan sekarang ini membuka ruang dan cakrawala baru dalam tatanan peradaban kehidupan manusia. Betapa tidak, sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, misteri dan merupakan wilayah metafisis bahkan teologis, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi riil dan lumrah. Sebagai contoh, sebut saja tentang penjelajahan manusia ke semesta lain, seperti perjalanan ke bulan dengan hanya menggunakan pesawat ulang alik baik yang berawak maupun yang tidak; rekayasa genetika; teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Akan tetapi, betapapun manusia telah berhasil dan terus berhasrat melakukan eksplorasi dan menguak tabir misteri cosmic, termasuk dirinya, namun keberadaan manusia itu sendiri tetap saja menjadi misteri yang hingga kini, bahkan entah sampai kapan perlu diungkap.
Berbagai penemuan baru super canggih produk ratio telah mampu merubah tatanan dan pola hidup yang dilakonkan manusia, termasuk paradigma kehidupannya. Perubahan dimaksud sekaligus telah menjadi pertanda keberhasilan manusia mengganti peran alam yang awalnya hadir sebagai mitra dalam kehidupan di semeta ini kini menjadi objek eksploitasi hanya dengan mengedepankan dalih demi kelangsungan hidup manusia dan demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seiring dengan perjalanan waktu, manusia semakin terpesona dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk kerja ratio. Bahkan ironisnya, hanya dikarenakan berbagai kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan sebagai tawaran dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian hari kian berkembang, manusia telah berani meniscayakan “ratio” yang terbukti telah berhasil menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tanpa disadari seiring dengan itu pula ia telah mereduksi keniscayaan realitas lainnya termasuk agama dengan berbagai elemen spiritual yang terkandung di dalamnya.
Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berakhir pada peniscayaan terhadap ratio membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (Yasraf, 2004). Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.
Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi, jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.
Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip Yasraf Amir Pilliang, bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.

b. Keniscayaan Modernitas
Modernisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang pasti ada menyambangi sebuah peradaban manusia, tak perduli apakah ia menghendakinya atau tidak. Menurut Franz Magnis, modernisasi adalah satu revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami manusia sesudah belajar bercocok tanam dan membangun rumah. Modernitas bagaikan air bah yang terus menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitif dan menggantinya dengan bangunan baru yang lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak dari padanya.
Zaman Modern sendiri, masih menurut Franz Magnis, diawali dengan ditemukannya 3 hal penting yaitu penemuan dan pemakaian bubuk mesiu, mesin cetak dan kompas pada abad ke-15 M di Eropa. Ketiga hal inilah yang menjadi pra-syarat terciptanya masyarakat modern berikutnya yang dimulai dari belahan dunia Eropa. Penemuan dan pemakain bubuk mesiu berarti titik akhir kekuasaan feodal yang dipusatkan dalam benteng-benteng feodalisme. Penemuan mesin cetak menandakan telah dimulainya proses transformasi ilmu pengetahuan sehingga dapat dikonsumsi oleh khalayak ramai, sehingga pengetahuan dan interpretasi kebenaran tidak lagi menjadi hak monopoli satu golongan tertentu. Dengan mesin cetak, pengetahuan baru yang ditemukan dari hasil eksplorasi para saintis dapat dipublikasikan secara lebih luas, dengan demikian pengetahuan menjadi inklusif karena dapat diakses oleh siapa saja. Kondisi ini memungkinkan percepatan perubahan dalam satu komunitas peradaban karena telah terjadi dinamisasi khususnya pada aspek peradaban intetektual. Di bagian lain, penemuan kompas mengisyaratkan bahwa navigasi mulai aman, sehingga dimungkinkan melakukan perjalanan jauh guna menemukan, membuka dan menjelajah dunia baru.
Tiga penemuan inilah yang menjadi dasar bagi perkembangan peradaban manusia selanjutnya menjadi semakin dahsyat juga liar. Karena tiga penemuan ini jugalah kemudian lahir tiga gerakan yang menjadi landasan pembuka jalan ke dunia modern. Ketiga gerakan itu adalah gerakan kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan industrialisasi, subjektivitas manusia modern dan rasionalisme.
Dari ketiga gerakan di atas kemudian lahirlah modernisme sebagai anak dari karya intelektual manusia. Ia menggurita dalam tiap aspek kehidupan manusia. Banyak penemuan-penemuan ilmiah baru yang mencengangkan dan membelalakkan mata manusia awam. Dimulai dari penemuan Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang ilmuan yang mengumandangkan teori bahwa matahari sebagai pusat tata surya (helio sentris), Johanes Kepler (1571-1630) yang menemukan hukum gerak planet, Galileo Galilei (1564-1626), dan sederet nama-nama lainnya. Sejak abad ini, dimulailah satu proyek besar ambisius oleh masyarakat barat, yaitu apa yang mereka sebut dengan modernisasi.
Menurut Lawrence, secara terminologi kemodernan dapat dipahami sebagai sebuah kondisi atau keadaan dimana muncul serangkaian perubahan dan peningkatan dalam kehidupan manusia, mulai dari sistem birokrasi, rasionalisasi, kemajuan dalam bidang teknis dan pertukaran global yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia era pra-modern. Lawrence berupaya mengambarkan modernisme sebagai “pencaharian otonomi individu, menekankan pada perubahan nilai secara kuantitas, efisiensi dalam produksi, dan kekuatan serta keuntungan di atas simpati terhadap nilai-nilai tradisional atau lapangan pekerjaan dalam ruang publik maupun pribadi. Keberhasilan tersebut –technical capacities dan global exchange—merupakan konsekuensi material dari ideologi modernisme, yang kemudian memarginalisasikan peran agama. Dari sini kemudian muncul perdebatan dimana orang banyak mendudukkan modernisasi vis-a-vis agama.

c. Anomali (keganjilan) Modernitas
Adalah hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dalam tiap ritme kehidupan, kita selalu dikelilingi oleh mesin, seolah kita tidak bisa hidup tanpanya sebagaimana sebagai makhluk seorang makhluk sosial, kita tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya di sekeliling. Demikian adanya bahwa mesin memudahkan, membuai dan memanjakan kehidupan kita. Tetapi sekali lagi kita mesti ingat bahwa modernitas adalah produk ambigu manusia yang menghadirkan dua sisi berhadap-hadapan.
Di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas menurut Budi Munawar Rahman, adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi (Komarudin Hidayat & Wahyu Nafis,1995). Menurutnya, manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan. Makanya, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan. Dengan mengutip Schumacher dalam bukunya “A Guide for the perplexed”, manusia kemudian disadarkan melalui wahana krisis lingkungan, bahan bakar, ancaman terhadap bahan pangan dan kemungkinan krisis kesehatan.
Awal mula krisis eksistensial ini sebagaimana yang pernah ditulis oleh Huston Smith dalam bukunya “Kebenaran yang Terlupakan” adalah saat seorang filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) mempublikasikan karyanya yang berjudul “Discourse on Method of Rightly Conducting the Reason and Seeking the Truth in the Science“. Dalam karyanya ini Descartes dengan jargon Cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) ingin mengungkapkan bahwa alam adalah sesuatu yang terpisah dari manusia sebagai subjek berpikir. Tidak ada yang tidak dapat diketahui manusia jika ia mau menggunakan pikirannya. Menurut Hikmat Budiman, filsafat Descartes ini dipandang sebagai penghulu terjadinya cara berpikir dualisme, dimana ia telah menghadirkan sebuah distinksi atau perbedaan atau pemisahan antara subjek (res cogitant) sebagai yang berpikir dan objek (res extensa) yang berada di luar. Di antara keduanya dijembatani dengan ilmu pengetahuan alam atau wacana (ergo). Hal ini berkonsekuensi pada terjadinya superioritas subjek terhadap objek, sesuatu dikatakan ada atau tidak ada, tergantung pada dipikirkan atau tidak dipikirkannya oleh subjek. Jika sebelumnya alam dikaitkan dengan eksistensi kekuasaan Yang Maha Agung (Tuhan) yang kemudian termanifestasi dalam figur totem, taboo, animisme, dinamisme bahkan agama, maka metodologi eklektis Cartesian kemudian menjadikan akal sebagai avant-garde eksistensi manusia di hadapan alamnya. Manusia dengan akalnya merasa mampu membedah alam, untuk kemudian menundukkannnya, sehingga alam hanya dijadikan sebagai objek yang dipikirkan (res extansa). Ini kemudiaan disebut oleh Imanuel Levinas, dijuluki sebagai egologi, yaitu ilmu pengetahuan yang berkutat dengan ego manusia.
Kerangka filosofis tersebut yang kemudian mendudukkan alam (nature) sebagai subordinasi dari manusia atau inferior vis a vis manusia (res cogitant). Supremasi ilmu pengetahuan alam dan semangat aufklarung ini yang kemudian memunculkan semangat kapitalisme dan kemudian imperialisme. Hal tersebut dapat kita pahami melalui persfektif teori sistem dunia dan teori ketergantungan.
Pada persoalan lain, secara ekstrem sebenarnya modernitas mengancam eksistensi kemanusiaan. Betapa tidak, dengan ditemukan dan dipakainya bubuk mesiu pada akhir abad ke-15 lalu di Eropa, maka bermunculan senjata-senjata canggih pemusnah massal. Beberapa tragedi dalam lintasan sejarah seperti pengeboman oleh tentara Amerika dengan bom atom di Nagashaki dan Hirosima, penggunaan gas sarin oleh sekte Aom Shinrikyu di stasiun kereta api bawah tanah yang menewaskan banyak orang, tragedi WTC dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, ini adalah ciri peperangan pada abad modern yaitu memusnahkan secara massal. Mungkin kita juga masih diingatkan dengan peristiwa ledakan pabrik kimia di Bhopal, India, pada bulan September 1984, atau yang terjadi pada perusahaan nuklir di Chernobyl, di bekas Uni Soviet, pada bulan April 1986, semua menelan korban jiwa yang tidak sedikit.
Pada aspek lingkungan, kita juga mencatat betapa teknologi sangat tidak bersahabat dan mempunyai konstribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Lapisan ozon yang telah menipis akibat efek dari banyaknya rumah kaca dan polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik serta kendaraan bermotor, hutan yang gundul, pantai yang mengalami abrasi, air sungai yang terkontaminasi dan lain sebagainya adalah akibat logis dari modernitas. Pada ranah ini, tidak hanya eksistensi manusia yang terancam tetapi juga alam secara makro. Sederhananya bahwa alam telah terekploitasi sedemikian bejadnya oleh interest rakus para individu penjelajah harapan dengan mengatasnamakan kepentingan kemanusiaan. Eksploitasi yang tidak logis dan berimbangan ini sejatinya telah merusak relasi arif antara meta cosmic, makro cosmic dan mikro kosmic yang dahulunya saling berdialektika dalam satu relasi interdependensi.
Lain lagi menurut Erich From dalam bukunya “The Revolution of Hope” bahwa dalam kehidupan manusia modern di tengah-tengahnya ada “hantu”. Terma hantu yang dipakai dan dimaksudkannya di sini adalah ilustrasi terhadap pola masyarakat yang dimesinkan secara total, manusia adalah mesin yang mekanis. Totalitas kehidupannya dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, yang dalam prosesnya -lebih ironis- bahwa ia diarahkan oleh komputer-komputer (baca: mesin). Manusia tidak lagi berfungsi sebagai manusia yang utuh. Dalam proses sosial semacam ini manusia menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup, tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan. Semua persoalan dalam konteks ini ditinjau dari perspektif material, padahal menurut Plato, seorang filosof Yunani, manusia adalah konfigurasi dari dua realitas tak terpisahkan yakni fisik yang mengambil bentuk material dan psikis yang mengambil bentuk jiwa atau spirit. Artinya, mengabaikan atau memprioritaskan salah satunya sama artinya dengan menjadikan manusia bukan manusia sebenarnya.
Hal lain yang juga telah menjadi karakter manusia modern yang materialistik oriented adalah budaya pragmatisme dan hedonisme. Pragmatisme1 adalah cara pandang yang melihat sesuatu dari nilai manfaat yang dapat dihasil dari sesuatu. Jika ia bermanfaat secara praktis material, maka ia dianggap kebenaran yang bernilai. Demikian juga dengan budaya hedonisme2, totalitas kehidupan semuanya diorientasikan untuk sebuah kenikmatan. Kebahagiaan tertinggi adalah karena akumulasi yang banyak dari kenikmatan material, dan sebaliknya kesengsaraan adalah disebabkan manusia tidak menemukan kenikmatan. Motto yang paling terkenal dari kaum hedonis adalah “hidup untuk hari ini”. Dari sini dapat diasumsikan bahwa apa saja menjadi legal dan pantas demi sebuah kenikmatan. Pada proses selanjutnya dapat dipastikan bahwa akan terjadi peminggiran terhadap beberapa sisi dari kemanusian itu sendiri, terutama persoalan moralitas juga etika.
Dalam ranah empiris kemudian dapat kita temukan betapa banyak hari ini penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras, aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa anomali yang include dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan sementara dapat dikatakan, bahwa kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak diiringi dengan kemajuan kualitatif. Modernitas dengan sederet anomalinya tersebut sedikit banyak telah mengabsurdkan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Absurditas inilah yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai hakikat hidup yang ia jalani.
d. Relevansi Ilmu pengetahuan (spiritualitas) Agama; sebuah tantangan
Modernitas senyatanya tidak hanya menghadirkan dampak positif, tapi juga dampak negatif. Terhadap dampak negatif ini, pertanyaan kita selanjutnya adalah apa yang seyogyanya kita lakukan, sementara modernitas dengan niscaya terus bergerak dengan tanpa memperdulikan apakah di balik gerakannya terdapat bias negatif. Modernitas yang merupakan kristalisasi budi daya manusia adalah keharusan sejarah yang tak terbantahkan, dengan demikian satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menjadi partisipan aktif dalam arus perubahan modernitas, sekaligus membuat proteksi dari akses negatif yang akan dimunculkan. John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam “Megatrends 2000“ mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, maka agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern. Dalam tesisnya ia mengatakan bahwa era milenium seperti sekarang merupakan era kebangkitan agama dan nilai-nilai esoteric. Bagi manusia modern, akses-akses negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi akan mampu di proteksi oleh kearifan esoteric sebuah relegiusitas. Tetapi yang menarik dari fenomena ini adalah bahwa kecendrungan sikap dan pilihan beragama kaum modernis adalah model beragama yang mengedepankan spirit relegiusitas ketimbang formalitas agama konvensional. Slogan mereka yang cukup terkenal itu adalah “Spirituality yes, organized relegion no” (Naisbitt,1990). Hal ini jika kita simak secara mendalam lebih disebabkan oleh adanya pengaruh dari karakteristik modernisasi yang mengedepankan rasio dan daya kritis terhadap sebuah kebenaran.
Terdapat alasan ontologis-teologis mengapa sisi spiritualitas tetap menjadi kebutuhan perenial manusia; seprimitif dan semodern apapun dia. Ia menganalogikan kebutuhan perenial itu dengan memetaforakan seperti sebuah cerita film (Yasraf Amir Pilliang, 2004). Bila di dalam segala sesuatu telah diketahui sebelumnya, artinya tidak ada lagi misteri dan pertanyaan yang perlu dijawab, enigma yang harus diselesaikan dan lain-lain, maka tidak ada makna baru yang penting dicari karena semuanya telah terbuka dan tersibak. Apa yang menarik dari sebuah film tersebut untuk kita tonton hingga menghabiskan waktu berjam-jam, toh kita telah tahu semuanya, seperti apa ending dari ceritanya. Film baru akan menarik manakala ia menghadirkan rasa penasaran, karena ia menyimpan misteri, pertanyaan dan enigma sehingga ia akan menghadirkan pengalaman baru bagi penontonnya.
Demikian pula kehidupan ini, manakala saat kita berada di atas dunia semuanya telah menjadi nyata, semua membentangkan realitas sebenarnya, tidak ada lagi ruang suci tak tersentuh yang kemudian menjadikan kita tidak lagi mempunyai pekerjaan untuk memimpikan, mengilusikan, menghayalkan, dan menafsirkan, sesungguhnya tidak ada lagi yang namanya kehidupan di dunia. Dunia akan hidup manakala masih ada realitas tak tersentuh yang kemudian menghadirkan energi bagi manusia untuk berikhtiar mengungkapnya baik melalui penalaran, perenungan, pengembaraan jiwa dan lain-lain. Yang jelas bahwa Realitas Tak Tersentuh ini sebagai sesuatu yang berada di luar kekuasaan manusia, di luar pengalaman manusia dan mungkin di luar kemampuan akal manusia pula. Oleh manusia, Ia disebut secara beragam: Penggerak yang Tak Tergerak (Un-moved mover), Transendental, Tuhan dan lain-lain. Maka, selama Realitas Tak Tersentuh Yang Tak Terbatas ini masih ada, maka masih ada kekuatan lain yang berada di atas kekuatan manusia dan di sinilah spiritualitas menemukan ruangnya.
Dalam konteks ini, asumsi awal yang dapat kita berikan bahwa semodern apapun sebuah komunitas, agama tetap akan eksis, dibutuhkan dan tetap dapat menjadi tawaran solutif terhadap penyakit sebagai darivasi dari peradaban yang dimunculkan. Agama diperlukan guna menjelaskan makna dan tujuan hidup manusia. Agamalah yang mengisi sisi spiritual manusia yang tidak mungkin dipenuhi oleh rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Bahkan menurut William James, agama akan selalu ada selagi manusia memiliki rasa cemas.
Robert N. Bellah di dalam Beyond Belief, menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Amerika – masyarakat yang biasanya diidentikkan dengan masyarakat sekular – ternyata masih membutuhkan keyakinan akan Tuhan, agama atau spiritualitas, meskipun interpretasi dari Tuhan dan agama ini sangat berbeda dari pengertian Tuhan dan agama sebagaimana yang ada pada agama konvensional. Bellah mengistilahkan spiritualitas seperti ini dengan agama civil (civil relegion), karena para penganutnya memasukkan kesadaran spiritualitasnya ke dalam ruang yang lebih umum, konsep Tuhan digeneralisir, dalam pengertian bahwa meskipun orang berbeda agama, akan tetapi mereka dapat mempunyai konsep Tuhan yang sama.
Dalam pengungkapan berbeda, George M. Marsden menyatakan bahwa agama bagi sebagian masyarakat modern telah kehilangan semangat komunalnya. Agama menjadi sangat pribadi dan individualistik. Kearifan nilai agama ditafsirkan secara subjektif sesuai dengan kepentingan masing-masing. Termasuk interpretasi tentang konsep ke-Tuhan-an, walau mereka yakin mempunyai Tuhan yang sama tetapi mereka ingin Tuhan yang mereka yakini itu adalah sebagaimana yang mereka interpretasikan.
Namun demikian tidak semua agama dapat menjawab persoalan kemanusiaan. Hanya agama yang menjamin pemenuhan spritualitas dan tidak bertentangan dengan sains dan teknologilah yang dapat bertahan. Selain itu pendekatan beragama yang cenderung ekslusif juga tidaklah cocok untuk ditawarkan pada hari ini dan masa yang akan datang karena pada masyarakat yang terbuka semacam ini agama semacam itu cenderung menyulut konflik. Agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang menekankan dan menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama. Teologi agama masa depan lebih concern pada persoalan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan, dengan mengandalkan pada kekuatan ilmu pengetahuan empiris dan kesadaran spiritual yang bersifat mistis (Komarudin Hidayat & Nafis,1995).
Secara epistemologis, agama masa depan menolak paham absolutisme dan akan memilih apa yang oleh Swidler disebut deabsolutizing truth atau yang oleh Seyyed Hossein Nasr diistilahkan sebagai relatively absolute. Dikatakan absolut karena setiap agama mempunyai klaim dan orientasi keilahian, tetapi semua itu relatif karena klaim dan keyakinan agama itu tumbuh dan terbentuk dalam sejarah. Tetapi tidak pula kita lantas sepakat dengan kecendrungan spiritualitas sekular dimana manusia menuhankan sesuatu yang mendunia (worldly), khususnya objek konkret maupun abstrak. Spiritualitas semacam ini adalah spiritualitas penuh paradoks, yang didalamnya manusia menuhankan sesuatu yang sama derajatnya dengan manusia itu sendiri. Karena objek-objek tersebut adalah ciptaannya sendiri atau setidaknya hasil proyeksi hayalnya, maka sangat tidak layak ia dituhankan. Sesuatu pantas dianggap Tuhan apabila sesuatu itu adalah yang benar-benar melampaui dirinya sebagai Yang Tak Terbatas, Tak Berhingga dan Tak Terjangkau.

e. Penutup
Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis mencoba merefleksikan apa yang pernah ditawarkan oleh seorang filsuf berkebangsaan Swiss Jean Jacques Rousseau (1712-177 saat ia menjawab sebuah pertanyaan “Apakah kemajuan seni dan ilmu pengetahuan memberikan konstribusi terhadap pemurnian moralitas manusia?” Pertanyaan dalam sebuah sayembara ini ternyata bagi Rousseau membukakan kesadaran nalarnya bahwa terlalu banyak keganjilan yang terjadi dalam tata kehidupan masyarakat pada waktu itu. Hasil perenungannya di bawah pohon ternyata sangat mengejutkan banyak pihak. Ia katakan bahwa kemajuan dalam bidang seni juga ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak membuat manusia semakin beradab alias tidak membuat moralitas manusia semakin murni (Russel, 2004). Justru sebaliknya, bahwa kemajuan peradaban akal budi semakin membuat kehidupan manusia tercerabut dari keharmonisan yang sungguh merupakan watak awalnya. Dalam tulisan panjangnya ia mengatakan, bahwa klaim kemajuan peradaban bangsa Prancis saat itu semu belaka karena hanya kemajuan pada ranah material kuantitatif yang terjadi, tetapi tidak pada ranah kualitatif. Di antara indikatornya adalah bahwa raja (penguasa) semakin ‘barbar’ melakukan eksploitasi pada rakyat dengan melakukan penarikan pajak secara semena-mena, sementara kalangan mereka sendiri terbebas dari beban tersebut. Wal hasil, kemajuan hanya dapat dinikmati segelintir kelompok saja yakni bagi mereka yang mempunyai akses kekuasaan juga kekayaan. Kesimpulannya bahwa kemajuan hanya membuat manusia semakin terperosok dalam keterasingan akan diri mereka yang sebenarnya.
Menurutnya, sebelum manusia membentuk komunitas dengan perangkat-perangkat yang terlembaga, kehidupan manusia berjalan sangat harmoni. Terjadi relasi yang saling ketergantungan antara manusia, alam dan Yang Kuasa. Pada dasarnya watak manusia secara alamiah adalah baik. Ia mempunyai sifat-sifat yang lugu, jujur, toleran dan bersahaja sebagai sifat yang tidak dibuat-buat. Tetapi kemudian karena muncul pelembagaan, mulailah secara perlahan klaim-klaim. Klaim hak milik, klaim kelompok paling benar, paling superior dan seterusnya. Di sinilah kemajuan menjadi tersangka sebagai biangkerok tercerabutnya sifat alamiah manusia yang adi luhung. Sebagai tawarannya, Rousseau mengajak untuk kembali ke alam (retoyr a la nature).
Dalam konteks kenestapaan manusia modern terhadap absurditas yang mereka rasakan, rasanya masih sangat relevan apa yang ditawarkan oleh Rousseau tersebut. Hanya saja, jika 258 tahun yang lalu Rousseau mengajak kembali ke alam, maka tawaran agar manusia berubah dalam rangka mengembalikan citra kemanusiaanya melalui kearifan nilai relegiusitas (spiritual) adalah konteks tawaran yang tepat terhadap masalah keterpinggiran manusia moderen dalam lingkaran eksistensinya. Kembali kepada spiritualitas di tengah kepongahan modernitas adalah mengembalikan rasa kehadiran Yang Suci di tengah-tengah moralitas manusia yang sejatinya memang telah dititipkan oleh Yang Suci pada tiap diri manusia. Spiritualitas adalah infinite idea yang inheren dalam totalitas kemanusiaan manusia. Mengingkarinya berarti mengingkari kedirian sebagai seorang manusia.
Sejarah membuktikan tentang hal ini, bahwa manusia mustahil hidup tanpa nilai spiritual yang ia akui sebagai Yang Maha Agung, dan yang dapat memenuhi kebutuhan spiritual manusia itu hanya agama. Sistem ideologi apapun yang ditegakkan oleh manusia seraya menafikan kenyataan bahwa manusia tidak melulu materi pasti akan mengalami krisis bahkan kehancuran. Manusia mungkin dapat hidup dalam sistem yang baru, namun jiwanya tetap dikendalikan oleh fitrah-fitrah yang tidak dapat dijelaskan dan dipuaskan secara materialistik. Hanya agamalah yang dapat menjelaskan dan memuaskannya. Alih-alih berkehendak untuk tidak bertuhan dan tidak mengakui nilai-nilai metafisik, justru hal ini akan memunculkan satu sistem agama baru dimana sang penggagas menjadikan diri dan konsepnya sebagai tuhan. Tentu kita berpikir betapa primitif dan tidak jelasnnya ide ketuhan seperti ini. Tetapi seprimitif dan tidak jelas bagaimanapun ide tersebut, bahwa manusia tidak dapat menghindar dari ide tentang Tuhan.
Namun tidak semua agama relevan untuk ditawarkan pada masyarakat modern, hal ini disebabkan karena manusia modern yang sangat mengagungkan hasil pengembaraan intelektual tidak akan mudah menerima begitu saja suatu sistem kepercayaan. Hanya agama yang tidak menafikan peran rasiolah yang akan bertahan disamping kemampuannya memenuhi kebutuhan spiritualitas yang tidak diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu watak masyarakat modern yang tanpa batas mengharuskan sebuah sistem ideologi – termasuk agama – yang dapat bertahan hanyalah yang dapat menghargai berbagai sistem ideologi lain yang berbeda. Inilah barangkali model keberagamaan masa akan datang yang menghadirkan sisi spiritualitas lebih dalam.
Spiritualitas seperti inilah yang sejatinya memberikan bingkai secara idiologis kejatidirian manusia dari serangan kehampaan dan keterasingan yang ditawarkan oleh nilai modernitas. Tetapi manusia modern mesti hati-hati dan arif, karena tidak semua tawaran spiritualitas baru memuarakan pada puncak spiritualitas sebenarnya. Spiritualitas sekular misalnya, spiritualitas ini mengandung ke-salahkaprah-an karena menyandarkan rasa spiritual kepada sesuatu yang tidak pantas memberikan sandaran. Sesuatu yang Tak Terbatas, Tak Berhingga, Tak Terjangkau, Transenden, Wajah Suci dan lain sebagainya adalah beberapa simbol yang sebenarnya layak untuk itu.
Dus, beranjak dari realitas tantangan ini, ilmu-ilmu keislaman secara metodologis diharapkan mampu melakukan breaktrough (terobosan). Aspek iptek yang ‘diislamkan’ selama ini oleh Harun Yahya perlu diacungi jempol, tanpa harus kembali ‘bertepuktangan’ akan kejayaan orang lain. Ilmu-ilmu tentang spiritualitas Islam seyogyanya ditampilkan penuh daya inklusifitas dan metodis, sebagai upaya menyediakan ‘oase’ bagi ‘kegersangan’ modernitas.Menghadirkan yang Transenden adalah kemestian di saat kenestapaan sedang kita alami. Persoalannya kemudian adalah apakah kita mau berusaha menghadirkan spirit yang Transenden tersebut, karena ia sungguh telah hadir dengan sendirinya disaat bersamaan kita menjadi manusia. Wallahu a’lam bi al-shawab.

forgotten truth..

“Kebenaran itu, laksana cermin yang diberikan Tuhan dan kini telah pecah.”
Manusia memungut pecahannya dan tiap orang melihat pantulan di dalamnya,
dan menyangka telah melihat kebenaran.
Maka sungguh repot, bila kemudian ada yang menggunakan pecahan kaca itu untuk
-atas nama kebenaran- menusuk orang lain yang memegangi pecahan yang lain…
Mohsen Makhmalbaf, sutradara film Iran terkemuka

Sebuah Pengantar menuju System of Tought Huston Smith
Book review ini lebih tepat disebut ‘sekilas tulisan pengantar’ terhadap pemikiran Huston Smith dalam bukunya FORGOTTEN TRUTH; The Common Vision of the World’s Religions. Ulasan-ulasan Smith yang disertai dengan beberapa deskripsi visual mengajak pembaca hening menuju sadar, bahwa sudah saatnya lepas landas dari zaman modern menuju zaman postmodern. Tulisan Smith ini, seakan membangunkan pembaca dari lelap yang panjang modernisme yang berselimutkan dimensi materialisme. Ia ingin mengajak kita lebih memandang hal yang sangat esensial dalam hidup, bahwa seharusnya manusia menyadari ‘horizon spiritualnya’, ada sesuatu yang lebih kuasa dari materi yang bisa kita saksikan hari ini.
Namun apa daya, kami belum mampu menangkap pesan-pesan Smith secara general, disebabkan karena bahasa yang digunakan Smith terlalu dalam, sedalam perenungannya terhadap filsafat perenial yang tak henti-hentinya bereksplorasi dalam alam infinite. Perlu berkali-kali membacanya, sehingga ada titik kepahaman yang sedikit jelas.
Setidaknya dapat sedikit melegakan, Smith memberikan ruang kepada pembaca untuk memberi kesimpulan masing-masing. Ia tidak menyediakan kesimpulan sendiri dalam bukunya, namun menyediakan ruang itu kepada pembaca. Sikap Low profil ini mirip dengan Hossein Nasr dalam pemikiran-pemikirannya yang menjadi kajian filsafat perenial islami abad ini.
‘Ala kulli hal, secara general, Smith mengajak kita menemukan ‘The Common Vision of the World’s Religions’ (visi yang sama dari agama-agama dunia). Hal senada, jauh sebelumnya digariskan al-Quran dalam Ali imran ayat 64, selanjutnya akan menjadi kajian kita bersama, dimanakah letak ‘kebenaran yang terlupakan’ selama ini dari ajaran-ajaran Tuhan yang telah ber-transenden dalam setiap esensi manusia.

Metodologi Smith dan Kontribusinya terhadap Kajian Islam
Dalam buku ini, Smith menggunakan pendekatan kajian filsafat perennial disertai dengan analisis semiotika terhadap simbol-simbol dalam semesta. Filsafat Perennial, dari sudut kebahasaan, perennial berasal dari bahasa latin perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa inggris, berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi.
Istilah perennial umumnya muncul dalam wacana filsafat agama, dimana agenda yang dibicarakan adalah; pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sehingga pada prinsipnya bersumber dari Yang Satu. Kedua, filsafat perennial ingin membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Meskipun Agama-Religion, dengan A dan R besar (dalam language games), yang benar hanya satu, tetapi karena ia diturunkan kepada manusia dalam spektrum historis dan sosiologis, maka, -seperti konsep Smith, bagaikan cahaya matahari yang tampil dengan beragam warna-, ‘Religion’ dalam konteks historis selalu hadir dalam formatnya yang pluralistik (religions atau agama-agama), dengan a dan r kecil, juga sekaligus menunjukkan plural.
Menurut Smith, terdapat distingsi antara dua tradisi besar filsafat, yaitu filsafat modern dan filsafat tradisional (perennial). Filsafat tradisional selalu membicarakan tentang adanya ‘Yang Suci’ (The Sacred) atau ‘Yang Satu’ (The One) dalam seluruh manifestasinya, seperti dalam agama, filsafat, sains dan seni. Sedangkan filsafat modern, justru sebaliknya, membersihkan ‘Yang Suci’ atau kesadaran kepada ‘Yang Satu’ ini dari alam pemikiran filsafat, sains dan seni. Sehingga, ketiga alam pemikiran tersebut telah benar-benar dikosongkan dari adanya ‘Yang Suci’ atau kesadaran kepada ‘Yang Satu’. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan mazhab filsafat materialis-nya Karl Marx dan lain-lain.
Filsafat perennial juga bisa disebut sebagai tradisi dalam pengertian al-din, al-sunnah dan al-silsilah. Al-din dimaksud adalah sebagai agama yang meliputi semua aspek dan percabangannya. Disebut al-Sunnah, karena perennial mendasarkan segala sesuatu atas model model sakral yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun di kalangan tradisional. Disebut silsilah, karena perennial juga merupakan rantai yang mengaitkan setiap periode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran di dunia tradisional kepada Sumber segala sesuatu, seperti terlihat secara jelas di dalam dunia tasawuf. Karenanya, filsafat perennial dalam pengertian tradisi ini –meminjam konsep Nasr- mirip sebuah pohon, akar-akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat ilahi dan darinya tumbuh batang dan cabang cabang sepanjang zaman

Bagaimana kaitan buku FORGOTTEN TRUTH; The Common Vision of the World’s Religions ini dengan gagasan pluralisme dan dialog agama-agama yang menjadi perhatian Huston Smith?

Berangkat dari konteks ayat 64 Surat Ali Imran;
Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Penekanan ‘Titik Temu’ dalam ayat ini memiliki banyak penafsiran. Jika kita mencoba melihat ayat ini dalam perspektif Huston Smith, ‘Titik Temu’ bukanlah pada bahasa atau simbol ideologis, namun sebagai tantangan manusia postmodern untuk melepaskan diri dari ‘beauty contest’ doktrin-doktrin normatif. Sebab yang diperlukan adalah respon kemanusiaan yang relevan dengan tantangan-tantangan yang ada. Hal ini terletak pada kemampuan agama-agama ‘berkompetisi’ untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan. Tentu saja, ‘kompetisi’ yang tidak lepas dari visi etika.
Perhatian Smith ini mempunyai relevansi yang sangat aktual, apalagi untuk Indonesia sebagai bangsa yang mempunyai masalah akibat distorsi keberagamaan. Ini menyiratkan perlunya suatu pencarian titik temu agama-agama pada level etis. Sedangkan, menurut Agamawan, pertemuan pada level teologi maupun metafisik diangggap sebagai ‘usaha yang sia-sia’. Namun, idealkah hal demikian itu?
Titik temu hingga pada level teologi dan metafisik demikian urgen, jika berangkat dari permasalahan manusia yang dihadapkan pada sebuah masa yang sering disebut para ahli, sebagai ‘zaman postmodern’ atau pascamodern. Postmodern, adalah zaman dimana pluralitas telah menjadi realitas yang tidak bisa ditolak. Setiap agama akan bertemu dengan agama-agama yang lain, sehingga ia harus mendefinisikan ulang problem kesahihan agama lain, yang tidak lagi bisa secara naif diberi label ‘kafir’, ‘mengalami penyelewengan’, dan lain sebagainya seperti selama ini diungkapkan.

Sebagai sebuah contoh, Islam dan Hindu adalah dua agama yang berbeda sama sekali. Tidak ada satu poin pun yang dapat memepertemukannya, apalagi secara kultural-historis, dua agama ini mempunyai ontologi yang berbeda. Padahal, kedua agama ini, dalam perspektif the common vision-nya Huston Smith, mempunyai kesatuan dan kesamaan gagasan dasar yang dalam Islam disebut dengan ‘pesan dasar agama’, yaitu Islam dalam arti generiknya yaitu ‘sikap pasrah’, untuk selalu bertaqwa, selalu menghayati keberadaan Tuhan dalam hidup sehari-hari, dan lain-lain.
Dalam konteks agama-agama, penerimaan adanya the common vision ini berarti menghubungkan kembali the many, dalam hal ini adalah realtias eksoteris agama-agama, kepada asalnya, The One and The Only (Tuhan), yang diberi berbagai macam nama oleh pemeluknya, sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan kesadaran sosial dan spiritual manusia.
Sehingga kesan empiris tentang adanya agama-agama yang majemuk itu, tidak hanya berhenti sebagai fenomena faktual saja, tetapi kemudian dilanjutkan : bahwa ada Satu Realitas yang menjadi pengikat yang sama dari agama-agama tersebut, yang dalam bahasa simbolis, bolehlah kita sebut dengan ‘Agama itu’ (The Religion).

Kritik Substantif
Manusia modern, menurut Seyyed Hossein Nasr, telah membakar tangannya dengan api yang dinyalakannya; karena ia telah lupa siapakah ia sesungguhnya. Begitulah, dunia belakangan ini ditandai dengan wacana krisis lingkungan hidup. Dewasa ini, riset-riset terbaru mulai membuat manusia menyadari bahwa krisis enviromental yang terjadi bukanlah karena sebab material, seperti layaknya hasil riset-riset konvensional. Akan tetapi, justru lebih pada sebab-sebab yang bersifat transendental; cara pandang manusia terhadap alam ini. Ini berarti bahwa dunia modern tidak lagi memiliki horizon spiritual.
Horizon spiritual sebenarnya tidak hilang, tapi karena manusia modern -dalam istilah filsafat perenial Nasr- “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia modern melihat segala sesuatu ‘hanya’ dari sudut pandang pinggiran eksistensinya itu, tidak pada ‘pusat spiritualitas dirinya,’ sehingga mengakibatkan ia lupa dirinya sendiri.
Memang harus disadari, bahwa dengan apa yang dilakukan manusia modern sekarang, seperti memberi perhatian pada dunia dan eksistensi di luar dirinya, menyebabkan kemajuan iptek (material) yang secara kwantitatif, sangat mengagumkan. Namun, secara kwalitatif, ternyata sangat dangkal. Dekadensi moral manusia modern ini terjadi karena kehilangan ‘pengetahuan langsung’ mengenai dirinya itu, dan menjadi bergantung pada pengetahuan eksternal, yang tak langsung berhubungan dengan dirinya.
Itu sebabnya, dunia ini, menurut pandangan manusia modern, adalah dunia yang tak memiliki dimensi transendental. Tak heran, jika peradaban modern dibangun selama ini tanpa menyertakan hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual.

Reference

Rahman, Fazl. Islam and modernity, (Chicago: University of Chicago Press, 1982), dalam Charles Kurzman ’Liberal Islam: a sourcebook’, (New York: Oxford University Press, 199

Akhtar, Shabbir. A Faith for All Seasons; Islam and the Challenge of the Modern World, (Chicago: Ivan R. Dee, 1991), dalam Charles Kurzman (Ed, ’Liberal Islam: a sourcebook’, (New York: Oxford University Press, 199

Armstrong, Karen., The History of God, the 4ooo-year Quest of Judaism, Christianity and Islam, (New Rok: Alfred A.Knopf, 1993)

Martin, Richard C (Ed)., Encyclopedia of Islam and the muslim world (USA: Mc Millan Publishing, 2004)

Smith, Huston., Forgotten Truth; the common vision of the world’s Religions, (New York: Harper San Francisco, 1992)

____________., Agama-agama manusia, terjemahan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991)

Hidayat, Komaruddin., Agama Masa Depan, perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: PT.Gramedia, 2oo3)

Lelaki dan Esok..

Kau, berkata padaku bahwa;
“ukuran utama seorang lelaki,
Bukan pada kondisi, ketika ia serba nyaman dan berkecukupan.
Namun,
Ketika ia tetap mampu tegak berdiri,
Untuk setiap tantangan dan kontroversi.”

Ketika terjatuh,
Tanganmu, lembut menarikku..
…dan ketika rintik,
Kau kuatkan aku,
Bahwa masih ada fajar,
dan juga senja, untuk kita.

Lombok, 25 Agustus2007

masalah dan hadiah..

Kurangi satu persatu, kerut dahimu.
Masalah demi masalah yang datang, akan selesai juga.
Kau kira,
Dengan berdoa kau akan dapat hadiah langsung dari Tuhan..?!
Cepat atau lambat, Ia pasti akan memberimu hadiah,
Namun dengan hadiah yang berbungkus ‘masalah’..
Ia ingin kau mengupasnya dengan sabar,
Perlahan dengan penuh kesungguhan,
Karena, bisa saja, di dalamnya kau temukan gula, madu, atau mutiara..
Hadiah dari Tuhan,
Untuk masing-masing kita biasanya berbeda.
Sangat sesuai dengan selera kita masing-masing.
Jika ada orang yang menilai, bahwa Tuhan tidak adil,
Bahwa hadiah yang diterimanya tidak sesuai dengan seleranya,
Ia telah bohong, ia mencoba berpaling dari hadiahnya,
Karena Tuhan, takkan memberi hadiah pada seorang hamba,
kecuali itu memang tepat dengan seleranya.
…Takkan lebih, takkan kurang!!!
Kecuali bagi hamba yang terus mengeluhkan hadiahnya..

Makassar, 28 September 2007

Penghargaan Tertinggi untuk Perempuan

Setiap taman mempunyai hembusan angin. Hembusan taman dunia adalah kaum perempuan. Mereka, saudara kaum
laki-laki, ibu para pahlawan. Penuh lembut, indah. Rahim orang-rang besar, melahirkan para ulama, membesarkan
orang-orang tangguh, mendidik para bijak. Perempuan, itu perasa. Menyakitinya adalah dosa, memarahinya adalah
cela. Barang siapa yang mencederainya, maka ia tak lagi mempunyai hak mendapat kasihnya. Andai engkau berikan
untuknya simpanan mahar. Kemudian ia mengabdi kepadamu selama satu bulan, lalu kamu melihat ada kekeliruan
sedikit dari dirinya, kamu mungkin akan berkata, “aku tak melihat kebaikan apapun dari dirimu”.
Perempuan, di dunia ini adalah hiasan, keindahan, dan pemberian inspirasi. Ia adalah pakaian bagi kaum laki-laki,
teman intim dalam kehidupan. Ia juga ibu yang sangat kasih. Sahabat bagi yang bersedih. Lebih baik dari meratap dan
menangis. Tapi lebih merisaukan dari rasa sakit dan lara.
Setiap taman mempunyai hembusan angin. Hembusan taman dunia adalah kaum perempuan. Mereka, saudara kaum
laki-laki, ibu para pahlawan. Penuh lembut, indah. Rahim orang-rang besar, melahirkan para ulama, membesarkan
orang-orang tangguh, mendidik para bijak. Perempuan, itu perasa. Menyakitinya adalah dosa, memarahinya adalah
cela. Barang siapa yang mencederainya, maka ia tak lagi mempunyai hak mendapat kasihnya. Andai engkau berikan
untuknya simpanan mahar. Kemudian ia mengabdi kepadamu selama satu bulan, lalu kamu melihat ada kekeliruan
sedikit dari dirinya, kamu mungkin akan berkata, “aku tak melihat kebaikan apapun dari dirimu”.
Perempuan, di dunia ini adalah hiasan, keindahan, dan pemberian inspirasi. Ia adalah pakaian bagi kaum laki-laki,
teman intim dalam kehidupan. Ia juga ibu yang sangat kasih. Sahabat bagi yang bersedih. Lebih baik dari meratap dan
menangis. Tapi lebih merisaukan dari rasa sakit dan lara.
Air susunya adalah makanan yang paling tulus, perlindungan yang diberikannya benar-benar tulus. Air susunya adalah
sumber kasih sayang. Dimatanya tersimpan rahasia. Dikeningnya terdapat banyak cerita. Air susunya menyimpan
makna kedemawanan. Dalam peluknya ada kasih sayang. Rasa laparnya, berarti ia tidak lapar seorang diri. Ketiadaan
perempuan dalam kehidupan adalah kehilangan banyak kebahagiaan. Ketersembunyian perempuan dalam pentas
dunia, adalah membunuh keindahan.
Ia adalah rumah bagi rantai keturunan. Pengimpun banyak prosa dan seni bahasa. Emas tanpa perempuan adalah
arang. Mutiara tanpa pemermpuan adalah seonggok kayu. Pendapat dan pandangannya memuat bahasa hati yang bisa
anda baca. Anda mengetahui kadar cintanya dari perempuan yang ditinggal kekasihnya. Dengan perempuan,
dipahamilah arti kepergian dan perambungan. Pertemuan dan perpisahan. Kerugian dan kebingungan. Ketidakpedulian
dan tuduhan.
Argumentasi perempuan bisa berakibat pada pembunuhan. Hanya kata-kata yang disampaikan kepadanya, bisa
bermakna meminangnya. Perkataan perempuan adalah sihir yang halal. Kalimat-kalimat dari lisannya mengalir seperti
madu. Senyumnya lebih lezat dari pada anggur. Perempuan lebih mampu menyihir ketimbang Harut dan Marut. Diantara
perempuan- perempuan terdapat Khadijah, yang menjadi symbol etika. Khadijah memiliki istana di surga, dari bambu
surga. Tak ada keributan dan keletihan di sana. Diantara perempuan-perempuan ada Aisyah binti As-Shiddiq, ia pemilik
ilmu, ketelitian, dan kredibilitas. Ia disucikan dan suci. Ia mempunyai kelembutan yang luar biasa dan keterpujian yang
menonjol. Dianatara perempuan-perempuan, ada Fatimah al-Batul binti Rosul. Ibu dari Hasan dan Husain. Pemimpin
wanita dunia. Yang diterima disisi Robbul’Alamin.
Perempuan adalah kertas putih. Diatasnya laki-laki menulis apa yang dia mau. Dari kecintaan dan kebencian. Dari
kemarahan dan penghinaan. Ia adalah taman yang hijau, kebun yang menawan. Di dalamnya semua tumbuh-tumbuhan
begitu indah dengan segala jenisnya, dan melemahkan orang yang tangguh bila berhadapan dengannya. Orang yang
berakal disisinya menjadi tak berdaya. Anda melihat seorang laki-laki berkelahi melawan singa, bertempur melawan
pasukan bersenjata. Tapi orang itu ternyata dikalahkan oleh perempuan! Anda lihat seorang laki-laki sangat hati-hati dan
zuhud dalam soal harta. Mampu berpuasa dari makan dan minum. Tapi orang itu juga ditaklukan oleh perempuan. Anda
lihat seorang laki-laki pemberani bisa tergeletak tidak berdaya dan dikalahkan, mampu melawan, jika ia menginginkan
perempuan. Perempuan dalam kebenciannya tidak terlihat jelas. Air matanya adalah petunjuk paling nyata bagi orang
yang mencintainya. Rahasia kekuatannya adalah, justru sebenarnya ia lemah.
Orang-orang kafir ingin agar perempuan-perempuan bebas berhias dengan fitnahnya. Sedangkan Islam ingin
keterlindungan dan ketertutupan. Ketakwaan dan kebersihan. Agar perempuan menjadi bukti keindahan dan
penerimaan. Orang-orang kafir menginginkan perempuan tampil dengan pakaian menawan. Jika laki-lakinya terfitnah
oleh dirinya, dan anak-anaknya membangkang kepadanya, maka generasi keturunannya menjadi sia-sia. Islam ingin
agar perempuan terlindung dengan benteng yang sungguh mahal.
---
Adalah Adam as. disurga tanpa teman dan tanpa pendamping. Lama berlalu masa itu, dan kesepian membuatnya
semakin sulit. Maka Allah SWT menciptakan untuknya Hawa. Lalu terciptalah antara keduanya kebersihan dan
kesetiaan. Pertemuan yang baik, perlakuan yang baik. Laki-laki tanpa perempuan bak sebuah ‘Buku yang tak
berjudul’, Raja tanpa kerajaan. Sedangkan perempuan tanpa laki-laki adalah ibarat padang pasir yang tak
bertumbuhan dan tak ada pepohonan. Kebun tanpa bunga dan buah.
Terima kasih wahai Aminah binti Wahab. Engkau telah menghadiahkan kepada kemanusiaan. Engkau telah mengajukan
pengorbananmu untuk manusia. Seorang anak yang memancar kehormatannya sebagaimana pancaran matahari di
waktu dhuha dan bulan saat benderang. Seorang anak yang mengatakan kepada kepercayaan berhala, “Demi
jiwaku yang berada di tangan-Nya, jika kalian meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri. Aku tak
kan pernah meninggalkan agamaku, sampai seluruh desa dan seluruh daratan ini terwarnai oleh agamaku“.
Perempuan-perempuan telah memberikan dunia, para pemimpin dimasa Khulafaur Rasyidin. Mereka
mempersembahkan para pahlawan dan para mujahidin. Para ahli dunia dan agama. Perempuan, jika baik perilakunya,
suci jilbabnya, penuh kasih hatinya, maka rumah akan penuh keridhoan dan dunia menjadi tenteram. Rumah tanpa
perempuan adalah mihrab tanpa imam. Jalanan tanpa petunjuk. Andai perempuan tersembunyi dari kehidupan. Tak ada
pelukan dan senyuman. Tak ada kata-kata dan ungkapan. Andai perempuan tak wujud di dunia, tak ada keturunan dan
kelahiran. Hanya ada para bujangan.
Dalam hadist disebutkan “Nikahilah perempuan yang kasih-sayang dan banyak melaihrkan anak”,
rahasianya adalah untuk memperbanyak pasukan, menambah jumlah tentara, dan agar Rosululloh membanggakan
jumlah yang banyak dihari kiamat. Di saat perempuan melucuti hijab, melepas jilbab, melawan hokum Islam, keluar
dengan liar, katakanlah, Selamat tinggal kesucian. Bagaimana rumah tanpa pintu bisa terpelihara. Bagaimana istana
bisa terlindungi tanpa penjaga. Air akan dijilat dan diminum oleh anjing. Maka, penghuni rumah haruslah menjaga dan
melindungi

lombok, 25 agustus 2008
taken from...(i forgot, where i took it from..)

cinta dan perkawinan

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya,
“Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana.
Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali,
kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap
paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.
Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting - ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi,
jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya
“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”


Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,
“Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)
dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.
Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang
paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.
Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”


Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.
Terimalah cinta apa adanya.


Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.
Adalah proses mendapatkan kesempatan,
ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya,
Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.