Doa; sesuatu yg terjawab tanpa jawaban..

Saya memohon diberi Kekuatan...
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat saya Kuat.

Saya memohon agar menjadi Bijaksana...
Dan ALLAH memberi saya Masalah untuk diselesaikan.

Saya memohon Kekayaan...
Dan ALLAH memberi saya Bakat,Waktu,Kesehatan dan Peluang .

Saya memohon Keberanian…..
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Rasa Cinta...
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu.

Saya memohon Kelebihan...
Dan ALLAH memberi saya jalan utk menemukannya.

“Saya tidak menerima apapun yang saya minta..
.......Akan tetapi saya menerima semua yang saya butuhkan "

Makassar, 29 Oktober 2008

Bake’ Belata dan Ceceta dalam konteks kekinian

83. qur’an hadits landasan kita
Bukan petunjuk bake’ belata!!!
Ataupun ceceta ramalan belaka
I’tiqad suci harus dijaga

(al-magfurlah dalam wasiat renungan masa)

Bake’ belata, sebuah istilah Sasak untuk Setan dan Jin yang jahat. Jika kembali kepada kisah para Jin jahat yang ‘mencuri’ ilham dari langit, sehingga ‘ditampar’ oleh petir Tuhan, maka merekalah yang mencoba memberikan pengetahuan ‘kebenaran’ yang mengalami proses saringan hawa nafsu dan kezaliman. Manusia secara tidak sadar bertaklid pada hembusan cerita-cerita mereka, seakan bahwa itulah suara Tuhan.

Bake’ belata, juga dapat diistilahkan pada sikap manusia yang menyerupai tingkah laku Bake’ itu sendiri. Perilaku-perilaku yang menyimpang dari ajaran Qur’an dan Hadits, namun diklaim sebagai ajaran kebenaran dari Tuhan. Pendek kata, Bake’ belata tak ubahnya seperti ular yang melata dalam sanubari kita, senantiasa menghembuskan racun ‘ingkar’ agar kita berpaling dari kebenaran hakiki.
Selang beberapa tahun ini, umat muslim Indonesia dihentakkan dengan kabar-kabar ‘Bake’ belata’ itu. Ada Lia Aminuddin yang mengaku sebagai malaikat penyelamat bahkan mengaku sebagai wakil Tuhan. Ada juga yang mengaku sebagai Nabi penyelamat umat. Jika benar mereka mendapat ‘bisikan wahyu’ dari Tuhan, lalu malaikat mana yang berani melangkahi tugas Jibril menyampaikan risalah wahyu? Dimanakah letak kebenaran bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir dengan risalah yang telah sempurna sebagaimana ajaran Qur’an dan Hadits?
Bake’ belata, sekali lagi, adalah paling pintar berakting sebagai malaikat kepada mereka yang tidak jernih imannya. Iman adalah sesuatu sistem yang terstruktur dalam hati kita yang bukan bersumber dari pembenaran empiris (indera) semata. Ia adalah sebentuk keyakinan yang mengakui bahwa Allah itu ada dan tiada berbilang.
Harus diakui, kehebatan metodologi Barat dalam point of enquiry (penjelajahan) ilmu pengetahuan. Epistemology empirisme (baca=ilmu yang terstruktur tentang cara mendapatkan sesuatu dengan penginderaan) diagungkan sebagai salah satu metodologi pembenaran terhadap sesuatu. Lalu, benarkah itu jika ditinjau dari perspektif Islam? Metodologi itu bukanlah hal baru. Bahkan nabi Ibrahim pun dulu mencoba mengkajinya, namun ternyata tidak cukup meyakini sesuatu dari apa yang dia dengar, lihat dan rasakan. Simaklah kembali cerita al-Qur’an tentang pencarian Ibrahim, atau Musa yang ingin melihat Tuhan secara nyata. Para Nabi bertugas menyampaikan risalah dan menunjukkan kehebatan-Nya dalam dimensi mukjizat-mukjizat nyata. Semesta ini beserta isinya adalah bukti (approvement) adanya kebenaran yang mutlak (Allah).
Pelan-pelan namun pasti, Bake’ belata menggiring pemikiran kita pada klaim kebenaran yang berlandaskan pada epistemology empirisme ansich, bahwa kebenaran adalah apa kita lihat, dengar, rasakan bahkan apa yang kita fikirkan. Dan kita mungkin lupa, bahwa mata kita hanya mampu melihat seberapa jauh, telinga hanya dapat mendengar gelombang suara dengan batas tertentu, lidah juga memiliki batas bahkan akal kita pun tak luput dari keterbatasan. Keseluruhan indera hanyalah media pembuktian atas kebenaran ilmiah, tapi bukanlah standar kebenaran itu sendiri.

Simaklah kembali permintaan Musa dalam QS. Al-Baqarah ayat 260 ;

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Terjemahnya :
Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)..

Bisikan Bake’ Belata sekarang bisa saja menjelma menjadi tulisan-tulisan di Surat kabar, Buku, Jurnal Ilmiah bahkan internet. Ia juga dapat menjadi tontonan-tontonan di televisi atau menghiasi siaran radio. Bake’ belata bahkan mungkin ikut mengalir pada ceramah ustad-ustad ‘instant’ yang semaunya menyitir ayat untuk kepentingannya, atau para politisi yang memberi janji-janji kemakmuran semu.
Iman seharusnya mengakar dalam diri kita dan mengalir bersama darah kita. Ia bukanlah sekedar polesan seperti lipstick atau jilbab modis nan seksi, ia bukanlah seperti jargon-jargon kampanye atau dialektika ceramah yang menawan namun tak berisi.
Bake’ belata bahkan telah merasuki anak-anak kita. Cobalah bertanya pada mereka yang acara mengajinya diganti dengan menonton TV, mereka yang mengganti waktu belajarnya dengan Playstasion. Siapakah manusia-manusia yang hebat? Jawaban mereka bisa saja beragam, dari Superman, Batman, Dragon Ball, Naruto, dll. Lalu, tanyalah mereka, apakah mereka kenal Ali bi Abi Thalib, Khalid bin Walid, Umar bin Al-Khattab, Shalahuddin al-Ayyubi atau bahkan Nabi Muhammad Saw sekaligus. Para pembaca bisa menebak sendiri jawaban mereka selanjutnya.
Bake’ Belata telah dan sedang merasuk ke dalam media yang di-impor ke Negara kita. Jepang membius anak-anak dengan film-film kartun heroik dan futuristik, India menyajikan film-film senandung dan goyangan khas yang melenakan, serta Eropa dan Amerika yang tak henti memproduk para akademisi dan pemikir yang menghasilkan karya-karya yang menjajah pemikiran kita bahkan mengaburkan iman kita. Pada tahap ini, cerita-cerita dalam film itu tak ubahnya merupakan ceceta ramalan belaka. Ceceta zaman ini dapat dipahami sebagai cerita dalam film dan redaksi tulisan ilmiah sekalipun,karena tidak berlandaskan al-Qur’an dan al-hadits.
Media, termasuk buku, TV dan internet, tak selalu negatif jika kita arif menyikapinya. Bahkan ia akan menjadi sarana yang mendukung dan menguatkan keimanan serta memajukan perdaban kita.
Bake’ belata zaman ini, tidak seperti yang dulu, dapat diusir dengan membaca ta’awwudz atau ayat kursi. Sekarang ia lebih sakti dan kebal karena telah berubah wujud menjadi ceceta yang meninabobokkan umat islam agar terus tertidur.
Lalu bagaimana cara mengantisipasinya?
Bait ke-empat syair ini, al-Magfurlah mengajarkan kita agar selalu menjaga I’tiqad suci kita. Karena ia adalah sebenar-benar benteng dan ajian pamungkas. I’tiqad yang harus selalu dipegang dan dilestarikan umat Islam, agar selalu berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi landasan para ulama mazhab ahlussunnah wal jamaah dan khususnya bagi warga Nahdlatul Wathan, juga dalam konseptualisasi mazhab al-Syafi’iyyah dalam fiqhi kita.
Semoga kita memahami bersama, mengapa kita ditradisikan al-Magfurlah untuk ber-I’tiqad dengan ahlussunnah wal jamaah dan ber-fiqhi dengan mazhab al-Syafi’iyyah..

Makassar, 16 Oktober 2008

Dakwah; sebuah transformasi teks menuju konteks

33. Banyak sekali pandai membaca
Tapi tak pandai mengkaji yang nyata
Kitab yang gundul dibaca nyata
Di kitab berbaris hatinya buta

(al-magfurlah TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiat renungan masa)

‘ala man taqra’ zabura? (Kepada siapa akan kau bacakan Zabur?)

Sebuah pepatah lama Arab ini sebagai kritik otoritas da’i yang senang mengatur bahasa dan menikmatinya, bahkan agar kedengaran intelek dan ilmiah, dan tak menyadari apakah umat mengerti apa yang disampaikannya. Kitab Zabur, yang diberikan kepada Nabi Daud As merupakan kitab yang jika dibaca mampu menggetarkan alam semesta, membuat burung-burung terlena hingga tak sadar terjatuh dari pohon tempatnya bertengger. Relevankah hari ini jika para praktisi dakwah menyampaikan dialektika dengan ‘bahasa Zabur’ yang indah, namun tidak mewakili kebenaran yang dipahami umat?

Hemat saya, re-orientasi dakwah abad ini harus membumi hingga ke akar-akar problematika umat. Umat seakan mulai jemu dengan cerita-cerita indah surga dengan segala kenikmatannya atau ancaman neraka yang berkobar-kobar apinya. Marilah sejenak berfikir tentang berteriaknya perut mereka yang berhari-hari tidak makan nasi, tentang retaknya keharmonisan rumah tangga, tentang anak-anak mereka yang menangis tak bisa sekolah, tentang moralitas yang sedang di-dikte acara-acara sinetron dan infotainment, tentang mereka yang berebut mengantri untuk mendapat zakat hingga harus ada yang meninggal, atau bahkan tentang mereka yang saling berebut kuota haji karena semakin banyaknya orang-orang Islam yang kaya namun sama sekali tidak berfikir tentang kemiskinan tetangganya..

Dimanakah letak titik equilibrium-nya (keseimbangan)? Para kader yang lebih memilih berceramah di rumah-rumah orang kaya dan mesjid-mesjid kantor yang terkenal tebal amplopnya, atau mereka yang rela berjam-jam mengunjungi undangan ceramah di mesjid kecil di perkampungan kumuh yang hanya diupah dengan secangkir teh dan ubi goreng?
Guru kita tercinta, Al-Magfurlah Maulana al-Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid, jauh-jauh hari sebelumnya memberikan wasiat di atas. Memang, beliau tidak menulis banyak buku seperti rekan-rekannya dahulu di madrasah al-Shaulatiyyah Makkah, padahal beliau sangat capable untuk itu. Ketika Syaikh Yasin berkunjung dahulu ke Pancor, dengan sangat rendah hati al-Magfurlah memuji prestasi beliau yang memiliki banyak karangan, namun apa jawaban Syaikh Yasin? “Engkau memang tidak menulis banyak kitab-kitab, sahabatku. Namun engkau telah menulis kebenaran di setiap jidat (dahi) umat, dan aku merasa tidak sedemikan berhasil sepertimu walaupun dengan banyak tulisan..”

Lihatlah sikap tawadlu’ mereka. Al-Magfurlah yang hingga akhir hayat beliau tetap mengunjungi jamaah walau hingga harus dipandu karena sudah tidak kuat lagi berjalan. Beliau yang tidak memilih-milih apakah tempat pengajian harus mewah atau terisi banyak jamaah. Pengajian beliau cukup di lapangan-lapangan dan mesjid-mesjid, namun kedekatan kepada jamaah sangat kekeluargaan. Cobalah sekali lagi kita berfikir, ulama sekaliber beliau,ikhlas berdakwah di bawah terik dan hujan yang hanya dinaungi tetaring (daun kelapa yang dianyam) yang sering bocor dan berlubang, namun lihatlah antusias jamaah yang merindukan nasihat dan kebersahajaan beliau.

Wasiat di atas juga mengkritisi para kader yang pandai membaca kitab gundul serta hapal ayat-ayat dan ratusan hadits, namun tak pandai membaca kitab berbaris nyata. Hemat saya, al-Magfurlah menyiratkan kitab berbaris sebagai idiom tentang realitas kehidupan. Kitab gundul merupakan panduan dan harapan. Sedangkan realitas kehidupan adalah kitab berbaris. Dan al-Magfurlah mengajarkan kita tentang kearifan dakwah yang men-sinergi-kan harapan dan kenyataan. Di dalam setiap metodologi ilmiah, setiap peneliti diwajibkan menemukan masalah penelitian serta selisih antara harapan dan kenyataan. Karena dengan itu dapat memudahkan transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Al-Magfurlah, sebagaimana konsep Hasan al-Banna, telah menggariskan konsep-konsep tsawabit (ketetapan) dan mutagayyirat (hal-hal yang bisa berubah) dalam paradigma (cara pandang) keberagamaan kita.

Realitas kehidupan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat NTB, tak lepas dari banyaknya problematika. Potret kemiskinan, Pendidikan yang mahal dan tak berkualitas, pengangguran intelektual, degradasi moral anak muda, transformasi zakat yang tidak profesional, tingginya kasus kawin-cerai, hingga moralitas pejabat yang merampas pundi-pundi kesejahteraan umat. Para kader hendaknya professional sebagaimana ajaran Rasul Saw; 

1. Khathibu’n Nas ala Qadri uqulihim (Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka), 
2. Khathibu’n Nas bilughati qaumihim (Serulah masyarakat dengan bahasa kaum mereka), 
3. Anzilu’n Nas manazilahum (Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka)

‘ala kulli hal, al-Magfurlah menginginkan kita lebih peka terhadap realitas dan memiliki sense of humanity (rasa kemanusiaan), sense of solidarity (solidaritas), sense of belonging (rasa saling memiliki), sense of responsibility (tanggungjawab), serta profesionalitas sebagai kader yang akan menjembatani transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Tugas kita bukan hanya pintar berdialektika dan lantang diatas podium, namun lebih dari itu mampu merasakan masalah-masalah umat dan mencari jalan keluar bersama. Idealnya, pada level inilah dakwah diistilahkan dakwah partisipatif

Makassar, 8 Oktober 2008

Kampanye oh kampanye..

Bahasa menunjukkan budaya, dan budaya adalah identitas sebuah bangsa. Demikian sebuah idiom lama menggambarkan pentingnya entitas bahasa. Kampanye juga merupakan bagian dari bahasa dalam kamus politik. Kampanye merupakan sekumpulan retorika dan dialektika politik yang menyampaikan harapan dan cita-cita pengabdian kepada publik. Kampanye juga merupakan seperangkat nilai luhur optimisme para calon pemimpin yang akan setia menampung dan merealisasikan aspirasi publik dalam pentas kepemimpinan.

Antara harapan dan kenyataan acapkali terdapat selisih. Dalam dunia politik pun asumsi ini tetap melekat dan sulit untuk dipisahkan. Jika kampanye dilihat dari paradigma komunikasi, ia merupakan élan vital uji publik terhadap program-program Calon pemimpin. Selisih, sejurus dengan rumusan masalah dalam dunia penelitian akademik, merupakan masalah yang harus ditemukan pemecahannya. Sedapat mungkin selisih-selisih yang ada di antara harapan dan kenyataan itu diminimalisir,agar transformasi harapan bisa diwujudkan dalam kenyataan. Namun, dalam kampanye politik, para calon pemimpin cenderung menyampaikan harapan-harapan (baca;janji-janji) yang terlalu jauh berbeda dengan realisasinya, sehingga selisih yang seharusnya dikurangi atau kalau bisa dihilangkan, acapkali tidak dapat diwujudkan secara bertanggungjawab.

Kampanye, secara perlahan mengalami pergeseran makna yang cukup dilematis. Dari seperangkat prinsip ideal transformative menjadi tak ubahnya jargon-jargon semu. Retorika politik yang amanah dan professional hanya menjual janji-janji langit yang tidak membumi.

Kampanye oh kampanye..

Bahasa menunjukkan budaya, dan budaya adalah identitas sebuah bangsa. Demikian sebuah idiom lama menggambarkan pentingnya entitas bahasa. Kampanye juga merupakan bagian dari bahasa dalam kamus politik. Kampanye merupakan sekumpulan retorika dan dialektika politik yang menyampaikan harapan dan cita-cita pengabdian kepada publik. Kampanye juga merupakan seperangkat nilai luhur optimisme para calon pemimpin yang akan setia menampung dan merealisasikan aspirasi publik dalam pentas kepemimpinan.

Antara harapan dan kenyataan acapkali terdapat selisih. Dalam dunia politik pun asumsi ini tetap melekat dan sulit untuk dipisahkan. Jika kampanye dilihat dari paradigma komunikasi, ia merupakan élan vital uji publik terhadap program-program Calon pemimpin. Selisih, sejurus dengan rumusan masalah dalam dunia penelitian akademik, merupakan masalah yang harus ditemukan pemecahannya. Sedapat mungkin selisih-selisih yang ada di antara harapan dan kenyataan itu diminimalisir,agar transformasi harapan bisa diwujudkan dalam kenyataan. Namun, dalam kampanye politik, para calon pemimpin cenderung menyampaikan harapan-harapan (baca;janji-janji) yang terlalu jauh berbeda dengan realisasinya, sehingga selisih yang seharusnya dikurangi atau kalau bisa dihilangkan, acapkali tidak dapat diwujudkan secara bertanggungjawab.

Kampanye, secara perlahan mengalami pergeseran makna yang cukup dilematis. Dari seperangkat prinsip ideal transformative menjadi tak ubahnya jargon-jargon semu. Retorika politik tanpa sikap amanah dan professional hanya menjual janji-janji langit yang tidak akan pernah membumi..

Muslim Indonesia; sebuah kritik diri

Dikisahkan ada 4 mahasiswa kuliah doctoral di Australia. 4 sahabat ini bertemu dengan nasib dan perjuangan intelektual mereka. Masing-masing berasal dari Negara yang berbeda. Sebutlah Akira dari Jepang, John dari Filipina, Rakesh dari India dan Hamdan dari Indonesia.
Background mereka yang berbeda tampak dalam keseharian mereka. Akira dari Jepang, adalah seorang yang sedikit bicara tapi banyak kerja. Rakesh dari India, dikenal banyak bicara, tapi sambil giat bekerja. John dari Filipina dikenal terlalu banyak bicara tapi sedikit kerja. Dan yang paling unik dari empat sahabat ini adalah hamdan, berasal dari karakter bangsa yang dikenal “lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan..!!”
Ilustrasi di atas disampaikan penulis sebagai starting point tulisan ini yang mendeskripsikan ‘frame’ kemajuan suatu bangsa. Menurut pembaca, diantara mereka, siapa yang berasal dari bangsa yang paling payah?
Akira, di negaranya menyembah matahari. Rakesh di kampungnya menyembah patung. Sedangkan John, mungkin menyembahTuhan yang lain atau tidak sama sekali. Dan Hamdan adalah seorang muslim sejati, katanya. Sejak nenek moyang memang muslim..
Pertanyaan yang muncul adalah ada apa yang salah dengan bangsa ini yang punya penduduk Muslim terbesar di dunia?
Awal 70-an, intelektual dari IAIN menganalisis bahwa perkembangan bangsa yang tersendat-sendat ini karena paham akidah yang kita punya terlalu ‘jabariah’(menyerahkan semuanya kembali kepada Allah). Sedikit-sedikit ‘takdir’, atau memang ‘nasib’ lalu mau dibilang apa lagi. sedangkan kalau kita bongkar system akidah, diantara mereka, siapa yang punya akidah yang sistematis, logis dan metodologis?
Menurut hemat penulis, disini bukan terletak pada masalah akidah, tapi pada frame “social engineering” (rekayasa social). Sejak dulu, kita sering ikut pengajian, ta’lim, dll. Lalu kenapa bangsa ini kok gak maju-maju ya? Bukankah Islam itu bukan saja urusan langit, juga pokok ajaran yang ngurus masalah ‘perut” sedetail-detailnya. Kita, sejak dulu hanya “di-ta’lim” (pengajaran) melulu, gak pernah “di-tadbir” (manajemen).
Mungkin tulisan ini “terbaca” sedikit ekstrim, terdengar banyak mengeluh dan agak inferior. Namun, inilah realitas. Posisi muslim Indonesia sangatlah dilematis. Sumber daya yang melimpah, tapi ngurus kasus korupsi, pajak, tenaga kerja, dll tidak beres-beres. Bagi-bagi zakat saja harus ada yang ‘mati’, bagi-bagi sembako pun harus ngantri berjam-jam. Inilah bangsa yang penduduk miskinnya sampai 34 juta (datanya SBY-JK), tapi untuk pergi naik haji, orang-orang harus saling sikut kiri-kanan supaya dapat kuota, karena orang yang mampu berhaji meningkat drastic tiap tahun, walau mungkin naik haji berkali-kali..
Lalu, apa korelasi antara banyaknya penduduk miskin dengan naik haji di Indonesia?
Sekali lagi, kita hanya dita’lim, tidak ditadbir. Proses transformasi ajaran Islam selama ini hanya berorientasi pada masalah akhirat. Tapi, dinding antara kaya dan miskin sangat tinggi.
Ustad-ustad hadir layaknya polisi lalu lintas, seraya teriak,”itu haram, ini wajib. Itu dosa, ini pahala!!”. Memangnya, surga dan neraka punya mereka? Sejatinya, menurut penulis, para Da’i adalah “makelar akhirat”, “makelar transformasi social”, bukan seperti Polisi Lalu Lintas!!
Harus ada re-konseptualisasi metodologi dakwah dan cara ber-Islam kita, menurut hemat penulis. Umat harus diajak berfikir, bukan dijejali dengan iming-iming surga atau diancam neraka. Sembari para intelektual Muslim bekerja dan mengatur manajemen ke-Islam-an kita, mengatur zakat, memberdayakan ekonomi umat, mengontrol media, optimalisasi pendidikan, dll..
Sehingga, berbicara surga dan neraka, sungguh sangatlah jauh. Mungkin lebih dekat kalau para ustad mengajak umat memperhatikan tetangga, pergaulan dan pendidikan anak-anaknya, mencari nafkah dengan cara yang elegan (halalan thoyyiban), bersedekah jika merasa mampu, dll..
Mungkin tulisan ini terlalu garing, tapi inilah selisih antara harapan dan kenyataan.
Dalam sebuah riwayat, Rasul Saw telah memerintahkan Fatimah, agar jika memasak lauk, perbanyaklah airnya. Sehingga bisa dibagi ke tetangga, walau cuma kuahnya saja, karena dagingnya sedikit..
Lalu, jika ada orang naik haji, trus ada anak tetangganya tidak bisa beli buku, atau masih mendengar tetangga yang anaknya menangis meminta makan tapi tidak ada beras, maka sungguh, tidak diterima haji-nya. Dengan alas an-alasan tersebut. kalau boleh sedikit garing seperti ustad “Polisi”, maka, haram hukumnya bagi orang itu naik haji..!!
Semoga Ramadlan tahun ini, memberikan kesadaran dan ampunan bagi penulis khususnya, dan pembaca sekalian. Amin..

Makassar, 20 Ramadlan 1429 H.

Identitas; antara “apa” dan “siapa”

Di sebuah perusahaan, terbuka pendaftaran untuk sekretaris. Setelah beberapa seleksi, tinggallah tiga orang yang akan mengikuti tahap wawancara. Kemudian, Bos perusahaan itu mewawancarai satu per satu pendaftar. Pendaftar A diberikan pertanyaan, “jika anda diterima di perusahaan ini, apa yang anda bisa berikan untuk perusahaan ini?”, Tanya si Bos. Pendaftar A menjawab,”saya akan berusaha bekerja sampai memperoleh puncak karir tertinggi di perusahaan ini”. Bos itu mencatat,”ambisius, dipertimbangkan..”. Pendaftar B juga diberikan pertanyaan yang sama, kemudian ia menjawab,”saya akan berusaha bekerja agar perusahaan ini untuk terus maju hingga puncak kemajuan.” Bos itu mencatat,”penuh dedikasi, dipertimbangkan..”. Pendaftar C, juga diberikan pertanyaan yang sama, kemudian ia menjawab,”saya akan berusaha melaksanakan tugas saya agar bos mencapai puncak kesuksesan tertinggi,”ujarnya dengan penuh semangat. Bos itu kemudian mencatat,” calon pekerja yang sungguh-sungguh, diterima..”
Ilustrasi di atas mungkin terkesan negatif, namun dapat dipahami bagaimana seorang calon bawahan yang sadar dengan posisinya diterima di perusahaan itu. Demikian pula jika mengkaji posisi kita di hadapan Tuhan, bahwa kita semua adalah hamba Tuhan, hamba yang harus menyadari posisi (hak dan kewajiban).
Di negeri ini, kaum muslim memiliki budaya buka puasa bersama. Di sebuah komunitas Ikatan Pelajar Mahasiswa Lombok-Makassar (IPMLM) di sudut kota Makassar berkumpul para calon dokter, insinyur, politisi, pilot, tentara, polisi, dosen, dll. Masing-masing memiliki profesi berbeda dan berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Sejenak, suasana di rantauan begitu syahdu dan akrab. Tidak ada satupun menyombongkan atribut-atribut “administrative” bikinan manusia, semua dalam posisi kesadaran sebagai manusia..
Kiai, Politisi, Dosen, dll adalah atribut administrative, masih memiliki peluang besar untuk berbuat zalim atau korupsi. Jika atribut itu semua dilepas, dan kembali menyadari posisi sesungguhnya, bahwa bukan “apa” (profesi) kita, tetapi “siapa” (manusia) kita?? Akankah masih ada yang berniat berbuat zalim dan korupsi??
Kita, di bulan Ramadlan ini dididik untuk berdisiplin. Saatnya magrib, berbukalah. Jika sudah imsak, jangan coba-coba makan minum lagi. Dan Tuhan pun membuat ketentuan yang alami dan universal, bukan karena Jenderal maka ia harus berbuka lebih dahulu, atau Presiden maka ia boleh makan sampai melebihi imsak..Tuhan ingin kita menyadari posisi kita, bahwa kita semua sama di hadapan-Nya.
Sungguh sangat sempit jika diartikan beribadah maksimal di bulan Ramadlan dan menafikan bulan-bulan yang lain. Itu istilahnya “puasa mekanis”, hanya taat dan alim saat Ramadlan, tapi jika ia berlalu, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama.
Tengoklah para artis yang di infotainment, ada yang bilang, “sekarang kan bulan puasa, jadi saya dan kekasih saya sementara waktu tidak sering-sering bersama dulu, dan menutup aurat, biar lebih khusyuk puasanya..” atau para politisi di senayan yang mengurangi aktifitas kampanye (atau mungkin karena takut berdusta di bulan puasa ya?),dll.. kita terbiasa “menjaga ramadlan” dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, namun setelah usai, dilakukan lagi. Lalu apakah ini yang digariskan Tuhan?
Aah, semakin banyak tulisan juga bisa bikin prasangka yang tidak baik untuk orang (takut dosa, kan Ramadlan..hehe).
‘ala kulli hal, sebuah riwayat menyebutkan;
رحمه الله امرءا عرف نفسه من أين,وفى أين وإلى أين...
“Allah merahmati seseorang yang menyadari ia darimana, sedang dimana dan hendak kemana..”
Riwayat itu mengingatkan kita agar memiliki kesadaran ontologis (darimana), historis (sedang dimana) dan aksiologis (hendak kemana). Dan jika kita memilikinya, maka kita akan menjadi ‘manusia’ yang sesungguh-sungguhnya manusia..
Semoga dapat kita ambil pelajaran, amin..

Makassar, 23 Ramadlan 1429 H

elang dan anak-anak ayam; siapa kalah?

Dimana dan akan kemana Indonesia? Demikian tema opini Ahmad Syafii Ma’arif di harian Kompas (Sabtu, 18 Oktober 2008). Sebagaimana kutipannya dari buku Fareed Zakaria “The Post American World” (Mei 2008), bahwa tahun 1981 ada sekitar 40 persen penduduk dunia dengan penghasilan hanya satu dollar AS per hari, tahun 2004 tinggal 18 persen. Diharapkan pada tahun 2015 akan menurun sampai 12 persen. Di sisi lain, seorang Penulis Perancis, Emmanuel Todd dalam buku terkenalnya di tahun 2002: After the empire ; The breakdown of the American order, meramalkan keruntuhan AS. Prediksi Todd itu memiliki tolok ukur kuat pada prediksi sebelumnya terhadap keruntuhan Uni Sovyet tahun 1975 yang terbukti. 

Analisis Pak Ma’arif terhadap dua karya amat menarik. Jika todd meramalkan bahwa AS tinggal menunggu waktu runtuhnya, maka Fareed Zakaria beragumen sebaliknya. Argumen Zakaria tentang the rise of the rest (munculnya pusat-pusat kekuatan baru) yang akan menyaingi, bahkan akan mengalahkan AS, khususnya di bidang ekonomi dan investasi. AS bukan akan runtuh sebagai bangsa dan Negara, tetapi akan tertinggal dengan sejarah ‘kesombongan adidaya-nya’. Bukankah sekarang dana investasi terbesar di planet bumi ini ada di Abu Dhabi, pusat industri film terbesar di dunia bukan lagi di Hollywood (LA, Amerika), melainkan di Bollywood (Mumbai, India)? Gedung tertinggi ada di Taipei, sebentar lagi di Dubai. Perusahaan publik terbesar bukan lagi di New York, tapi di Beijing. Pesawat penumpang terbesar dibuat di Eropa, bukan di AS.

Dengan demikian, ke-adikuasa-an AS pasca perang dingin telah berakhir. Meski dalam segi militer, AS masih kuat, hulu ledak nuklirnya berjumlah 830 jika dibandingkan dengan China hanya 20. Ibarat seperti burung elang yang memiliki paruh tajam dan kuku yang kuat,tidak lagi ‘berkuasa’ terhadap anak ayam, karena anak ayam telah dan sedang tumbuh menjadi pejantan tangguh dengan taji dan kokoknya yang membuat elang kehilangan pamor kehebatannya. Sang elang sibuk mengasah kuku dan paruhnya seraya berkeliling ‘ronda’ dan menakut-nakuti makhluk lain. Ia lupa, anak ayam pun bisa tumbuh menjadi pejantan yang memiliki tubuh yang lebih besar dan taji yang lebih tajam.

Hegemoni ‘kemenangan’ AS dalam media.
Hemat saya, kampanye Obama-McCain tak ubahnya seperti film-film heroik AS yang jumawa atas kemenangan ‘palsu’ atas Vietnam. Produk-produk film Hollywood seperti Rambo, Faith of my fathers, dan sekian film-film tentang kehebatan AS di Vietnam hanyalah sekedar fairytales (dongeng) untuk me-ninabobok-kan bangsa-bangsa berkembang. Fairytales tentang kehebatan AS lainnya seperti di Libya, Sudan, Iraq, Afganistan, Kuba, dan lain-lain, sebentar lagi akan terhapus dengan sendirinya di buku-buku sejarah. Negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin kini sedang berlomba bangkit dari tidur panjang itu. Sebagaimana teori umum dalam metodologi kritik sejarah, bahwa fakta sejarah takkan pernah berubah, kecuali interpretasi kita terhadapnya yang bisa berubah-ubah. 

To be continued..