Aswaja yang memasyarakat; Dari teosentrisme menuju antroposentrisme

Mendeskripsikan konsepsi ilmu kalam seperti yang digariskan ahlussunah wal jamaah memerlukan seperangkat metodologi yang kuat. Al-Asy’ariyah sebagai Mazhab aqidah yang mayoritas pemeluknya di Indonesia, jika ditelusuri kesejarahannya telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dalam memahami eksistensi Tuhan, umumnya dapat kita pahami dalam dunia akademisi adalah melalui dua jalan; agama dan filsafat.

Teosentrisme

Teosentrisme merupakan tren manusia yang menjadikan Tuhan sebagai objek pemikiran. Filsafat yang lahir dari rahim Yunani mulai merasuk hingga ke ranah konsepsi ilmu tauhid (ilmu kalam). Tren ini menjadi perdebatan-perdebatan sengit di kalangan dua kutub besar pemikiran Islam abad permulaan yaitu Jabariyah dan Qadariyah. Dua aliran ini di kemudian hari berkembang, Qadariyah menjadi Mu’tazilah, dan Jabariyah berkembang lebih aplikatif menjadi Asy’ariyah. Tragedi mihnah dapat disebut sebagai peristiwa yang mencoreng sejarah Islam di abad pertengahan. Jauh sebelumnya, rentetan konteks pertikaian Ali versus Aisyah dan Ali versus Muawiyah merupakan dasar pertentangan teologis waktu itu.

 Filsafat yang sering mengalami negasi dalam lingkup Ahlussunnah wal jamaah juga mengalami perkembangan serupa. Jika dirunut sejarahnya, dalam perjalanan al-Asy’ariyah, para Imam penerus generasi Imam Hasan al-Asy’ari dihadapkan pada kondisi dimana ilmu kalam dipertanyakan (baca: menghadapi tantangan yang luar biasa) oleh para filosof dan publik. Hal inilah yang melatarbelakangi al-Baqillani menggunakan pendekatan analisis filsafat ‘yang diislamkan’ dalam merekonstruksi kembali konsep mazhab Asy’ariyah yang mulai digerogoti neo-Mu’tazilah dan filsafat teologi-materialis Barat kala itu. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa dengan pendekatan filsafat Islam, beliau menjadikan ilmu kalam memiliki landasan yang sangat kokoh, ibarat air yang diletakkan di cangkir. Perkembangan ini berlanjut hingga peranan al-Juwaini yang bergelar Imam al-Haramain beserta muridnya, al-Ghazali.

I’tiqad Aswaja (Ahlussunah wal jamaah) yang melingkupi mazhab Asy’ariyah, di samping al-maturidiyah, menjadi tolok ukur keimanan kita. Hal ini telah digariskan Hamzanwadi sebagai sebuah fondasi keimanan, khususnya bagi warga NW, sebagai sebuah upaya dakwah yang mendekonstruksi wajah animisme, wetu telu, dan kepercayaan yang keliru lainnya yang waktu itu masih melekat pada masyarakat Lombok.

Antroposentrisme; manusia dan alam sebagai Objek pemikiran

Antroposentrisme merupakan fase yang mengalami pergeseran nilai dari aliran teosentrisme. Tuhan ttidak lagi menjadi sebagai objek pemikiran. Manusia lebih memilih ‘mendamaikan diri’ dari pertentangan teologis. Karena hal itu tidak akan pernah berujung. Kemudian manusia lebih fokus memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya, daripada memikirkan Tuhannya.
...to be continued
Blogged with the Flock Browser

Kenapa umat Islam sulit maju?

Jika kita mengembangkan pertanyaan terkenal Muhammad Abduh, mengapa Umat Islam mengalami kemunduran dan orang lain mengalami kemajuan? (لماذا تأخر المسلمون وتقدم غيرنا؟), maka pertanyaan selanjutnya adalah : mengapa NW mundur, sedangkan organisasi lainnya semakin maju?

Terkadang, mungkin kita akan memakai apologi bahwa ideologi yang kita gunakan adalah ideologi yang selalu ‘akhirat-minded’ atau seputar surga-neraka. Dan atau barangkali dengan apologi ketidakmampuan kita ‘berdialog’ dengan realitas kehidupan modern.

Tulisan ini bukan hendak mempertentangkan eksistensi organisasi-organisasi Islam di negeri ini. Namun lebih pada kerangka berfikir (فاستبقوا الخيرات), saling berkompetisi dalam kebaikan.

Ibarat pasar tradisional dan supermarket. Keduanya secara prinsip adalah sama, menjual barang dagangan. Perbedaannya adalah bagaimana sistem dan manajemen yang digunakan. Jika supermarket sudah merambah (menjemput pembeli) ke dalam dunia iklan di pelbagai media seperti surat kabar, televisi dan lainnya, maka pasar tradisional masih tetap eksis menunggu datangnya para pembeli. Disinilah kita dapat melihat antara konsep menunggu dan menjemput.

Mungkin terlalu sarkastik mengibaratkan organisasi Islam dengan pasar. Namun, inilah realitasnya ketika kita melihat secara epistemik, bagaimana organisasi juga ‘menjajakan’ ideologi dan konsepnya kepada publik. Apakah itu berupa konsep ahlussunnah wal jama’ah atau mazhab fiqh sekaligus. Pada hakikatnya, seluruh organisasi yang ada mengibarkan bendera yang sama, yaitu untuk menegakkan kalimat Allah dan mengagungkan Islam  dan Umatnya (لإعلاء كلمة الله وعز الإسلام والمسلمين).

Berbicara tentang organisasi Islam di Indonesia, -kemunculan Muhammadiyah tahun 191-, NU tahun 1926 dan selanjutnya NW tahun 1937- menunjukkan bahwa inilah awal kebangkitan umat Islam di tanah air.

Mungkin kita terbiasa mengasumsikan kemajuan itu secara kuantitatif. Hal ini ditunjukkan dengan ukuran yang kita gunakan adalah seberapa besar jumlah jama’ah atau simpatisan yang dimiliki atau seberapa banyak alumni yang dihasilkan.
Blogged with the Flock Browser

Sikap bangga (proudness) yang berlebihan

Kedua, masalah lain yang kita koleksi adalah proudness (kebanggaan). Kita tersilau kekaguman dengan tokoh besar yang kita panuti, namun tidak berusaha melanjutkan perjuangannya. Kekhawatiran seperti ini pernah terjadi ketika Rasul Saw wafat. Kegoncangan yang hebat terjadi dalam komunitas kaum muslimin. Kebijaksanaan Abu Bakar mendamaikan kegusaran Umar yang tidak menerima rasa kehilangannya.

·         Akan tetaplah kita pada konsepsi ‘keutamaan bagi sang pemula, walaupun muncul para penerus yang lebih baik’ (الفضل للمبتدى وإن أحسن المقتدى).

Blogged with the Flock Browser