“Kebenaran itu, laksana cermin yang diberikan Tuhan dan kini telah pecah.”
Manusia memungut pecahannya dan tiap orang melihat pantulan di dalamnya,
dan menyangka telah melihat kebenaran.
Maka sungguh repot, bila kemudian ada yang menggunakan pecahan kaca itu untuk
-atas nama kebenaran- menusuk orang lain yang memegangi pecahan yang lain…
Mohsen Makhmalbaf, sutradara film Iran terkemuka
Sebuah Pengantar menuju System of Tought Huston Smith
Book review ini lebih tepat disebut ‘sekilas tulisan pengantar’ terhadap pemikiran Huston Smith dalam bukunya FORGOTTEN TRUTH; The Common Vision of the World’s Religions. Ulasan-ulasan Smith yang disertai dengan beberapa deskripsi visual mengajak pembaca hening menuju sadar, bahwa sudah saatnya lepas landas dari zaman modern menuju zaman postmodern. Tulisan Smith ini, seakan membangunkan pembaca dari lelap yang panjang modernisme yang berselimutkan dimensi materialisme. Ia ingin mengajak kita lebih memandang hal yang sangat esensial dalam hidup, bahwa seharusnya manusia menyadari ‘horizon spiritualnya’, ada sesuatu yang lebih kuasa dari materi yang bisa kita saksikan hari ini.
Namun apa daya, kami belum mampu menangkap pesan-pesan Smith secara general, disebabkan karena bahasa yang digunakan Smith terlalu dalam, sedalam perenungannya terhadap filsafat perenial yang tak henti-hentinya bereksplorasi dalam alam infinite. Perlu berkali-kali membacanya, sehingga ada titik kepahaman yang sedikit jelas.
Setidaknya dapat sedikit melegakan, Smith memberikan ruang kepada pembaca untuk memberi kesimpulan masing-masing. Ia tidak menyediakan kesimpulan sendiri dalam bukunya, namun menyediakan ruang itu kepada pembaca. Sikap Low profil ini mirip dengan Hossein Nasr dalam pemikiran-pemikirannya yang menjadi kajian filsafat perenial islami abad ini.
‘Ala kulli hal, secara general, Smith mengajak kita menemukan ‘The Common Vision of the World’s Religions’ (visi yang sama dari agama-agama dunia). Hal senada, jauh sebelumnya digariskan al-Quran dalam Ali imran ayat 64, selanjutnya akan menjadi kajian kita bersama, dimanakah letak ‘kebenaran yang terlupakan’ selama ini dari ajaran-ajaran Tuhan yang telah ber-transenden dalam setiap esensi manusia.
Metodologi Smith dan Kontribusinya terhadap Kajian Islam
Dalam buku ini, Smith menggunakan pendekatan kajian filsafat perennial disertai dengan analisis semiotika terhadap simbol-simbol dalam semesta. Filsafat Perennial, dari sudut kebahasaan, perennial berasal dari bahasa latin perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa inggris, berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi.
Istilah perennial umumnya muncul dalam wacana filsafat agama, dimana agenda yang dibicarakan adalah; pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sehingga pada prinsipnya bersumber dari Yang Satu. Kedua, filsafat perennial ingin membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Meskipun Agama-Religion, dengan A dan R besar (dalam language games), yang benar hanya satu, tetapi karena ia diturunkan kepada manusia dalam spektrum historis dan sosiologis, maka, -seperti konsep Smith, bagaikan cahaya matahari yang tampil dengan beragam warna-, ‘Religion’ dalam konteks historis selalu hadir dalam formatnya yang pluralistik (religions atau agama-agama), dengan a dan r kecil, juga sekaligus menunjukkan plural.
Menurut Smith, terdapat distingsi antara dua tradisi besar filsafat, yaitu filsafat modern dan filsafat tradisional (perennial). Filsafat tradisional selalu membicarakan tentang adanya ‘Yang Suci’ (The Sacred) atau ‘Yang Satu’ (The One) dalam seluruh manifestasinya, seperti dalam agama, filsafat, sains dan seni. Sedangkan filsafat modern, justru sebaliknya, membersihkan ‘Yang Suci’ atau kesadaran kepada ‘Yang Satu’ ini dari alam pemikiran filsafat, sains dan seni. Sehingga, ketiga alam pemikiran tersebut telah benar-benar dikosongkan dari adanya ‘Yang Suci’ atau kesadaran kepada ‘Yang Satu’. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan mazhab filsafat materialis-nya Karl Marx dan lain-lain.
Filsafat perennial juga bisa disebut sebagai tradisi dalam pengertian al-din, al-sunnah dan al-silsilah. Al-din dimaksud adalah sebagai agama yang meliputi semua aspek dan percabangannya. Disebut al-Sunnah, karena perennial mendasarkan segala sesuatu atas model model sakral yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun di kalangan tradisional. Disebut silsilah, karena perennial juga merupakan rantai yang mengaitkan setiap periode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran di dunia tradisional kepada Sumber segala sesuatu, seperti terlihat secara jelas di dalam dunia tasawuf. Karenanya, filsafat perennial dalam pengertian tradisi ini –meminjam konsep Nasr- mirip sebuah pohon, akar-akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat ilahi dan darinya tumbuh batang dan cabang cabang sepanjang zaman
—
Bagaimana kaitan buku FORGOTTEN TRUTH; The Common Vision of the World’s Religions ini dengan gagasan pluralisme dan dialog agama-agama yang menjadi perhatian Huston Smith?
Berangkat dari konteks ayat 64 Surat Ali Imran;
Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Penekanan ‘Titik Temu’ dalam ayat ini memiliki banyak penafsiran. Jika kita mencoba melihat ayat ini dalam perspektif Huston Smith, ‘Titik Temu’ bukanlah pada bahasa atau simbol ideologis, namun sebagai tantangan manusia postmodern untuk melepaskan diri dari ‘beauty contest’ doktrin-doktrin normatif. Sebab yang diperlukan adalah respon kemanusiaan yang relevan dengan tantangan-tantangan yang ada. Hal ini terletak pada kemampuan agama-agama ‘berkompetisi’ untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan. Tentu saja, ‘kompetisi’ yang tidak lepas dari visi etika.
Perhatian Smith ini mempunyai relevansi yang sangat aktual, apalagi untuk Indonesia sebagai bangsa yang mempunyai masalah akibat distorsi keberagamaan. Ini menyiratkan perlunya suatu pencarian titik temu agama-agama pada level etis. Sedangkan, menurut Agamawan, pertemuan pada level teologi maupun metafisik diangggap sebagai ‘usaha yang sia-sia’. Namun, idealkah hal demikian itu?
Titik temu hingga pada level teologi dan metafisik demikian urgen, jika berangkat dari permasalahan manusia yang dihadapkan pada sebuah masa yang sering disebut para ahli, sebagai ‘zaman postmodern’ atau pascamodern. Postmodern, adalah zaman dimana pluralitas telah menjadi realitas yang tidak bisa ditolak. Setiap agama akan bertemu dengan agama-agama yang lain, sehingga ia harus mendefinisikan ulang problem kesahihan agama lain, yang tidak lagi bisa secara naif diberi label ‘kafir’, ‘mengalami penyelewengan’, dan lain sebagainya seperti selama ini diungkapkan.
—
Sebagai sebuah contoh, Islam dan Hindu adalah dua agama yang berbeda sama sekali. Tidak ada satu poin pun yang dapat memepertemukannya, apalagi secara kultural-historis, dua agama ini mempunyai ontologi yang berbeda. Padahal, kedua agama ini, dalam perspektif the common vision-nya Huston Smith, mempunyai kesatuan dan kesamaan gagasan dasar yang dalam Islam disebut dengan ‘pesan dasar agama’, yaitu Islam dalam arti generiknya yaitu ‘sikap pasrah’, untuk selalu bertaqwa, selalu menghayati keberadaan Tuhan dalam hidup sehari-hari, dan lain-lain.
Dalam konteks agama-agama, penerimaan adanya the common vision ini berarti menghubungkan kembali the many, dalam hal ini adalah realtias eksoteris agama-agama, kepada asalnya, The One and The Only (Tuhan), yang diberi berbagai macam nama oleh pemeluknya, sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan kesadaran sosial dan spiritual manusia.
Sehingga kesan empiris tentang adanya agama-agama yang majemuk itu, tidak hanya berhenti sebagai fenomena faktual saja, tetapi kemudian dilanjutkan : bahwa ada Satu Realitas yang menjadi pengikat yang sama dari agama-agama tersebut, yang dalam bahasa simbolis, bolehlah kita sebut dengan ‘Agama itu’ (The Religion).
Kritik Substantif
Manusia modern, menurut Seyyed Hossein Nasr, telah membakar tangannya dengan api yang dinyalakannya; karena ia telah lupa siapakah ia sesungguhnya. Begitulah, dunia belakangan ini ditandai dengan wacana krisis lingkungan hidup. Dewasa ini, riset-riset terbaru mulai membuat manusia menyadari bahwa krisis enviromental yang terjadi bukanlah karena sebab material, seperti layaknya hasil riset-riset konvensional. Akan tetapi, justru lebih pada sebab-sebab yang bersifat transendental; cara pandang manusia terhadap alam ini. Ini berarti bahwa dunia modern tidak lagi memiliki horizon spiritual.
Horizon spiritual sebenarnya tidak hilang, tapi karena manusia modern -dalam istilah filsafat perenial Nasr- “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia modern melihat segala sesuatu ‘hanya’ dari sudut pandang pinggiran eksistensinya itu, tidak pada ‘pusat spiritualitas dirinya,’ sehingga mengakibatkan ia lupa dirinya sendiri.
Memang harus disadari, bahwa dengan apa yang dilakukan manusia modern sekarang, seperti memberi perhatian pada dunia dan eksistensi di luar dirinya, menyebabkan kemajuan iptek (material) yang secara kwantitatif, sangat mengagumkan. Namun, secara kwalitatif, ternyata sangat dangkal. Dekadensi moral manusia modern ini terjadi karena kehilangan ‘pengetahuan langsung’ mengenai dirinya itu, dan menjadi bergantung pada pengetahuan eksternal, yang tak langsung berhubungan dengan dirinya.
Itu sebabnya, dunia ini, menurut pandangan manusia modern, adalah dunia yang tak memiliki dimensi transendental. Tak heran, jika peradaban modern dibangun selama ini tanpa menyertakan hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual.
Reference
Rahman, Fazl. Islam and modernity, (Chicago: University of Chicago Press, 1982), dalam Charles Kurzman ’Liberal Islam: a sourcebook’, (New York: Oxford University Press, 199
Akhtar, Shabbir. A Faith for All Seasons; Islam and the Challenge of the Modern World, (Chicago: Ivan R. Dee, 1991), dalam Charles Kurzman (Ed, ’Liberal Islam: a sourcebook’, (New York: Oxford University Press, 199
Armstrong, Karen., The History of God, the 4ooo-year Quest of Judaism, Christianity and Islam, (New Rok: Alfred A.Knopf, 1993)
Martin, Richard C (Ed)., Encyclopedia of Islam and the muslim world (USA: Mc Millan Publishing, 2004)
Smith, Huston., Forgotten Truth; the common vision of the world’s Religions, (New York: Harper San Francisco, 1992)
____________., Agama-agama manusia, terjemahan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991)
Hidayat, Komaruddin., Agama Masa Depan, perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: PT.Gramedia, 2oo3)
Main Menu
- Home
- Profil
- _Visi, Misi & Tujuan
- _Renstra
- _Arah Kebijakan
- _Struktur Organisasi
- Fasilitas
- _Laboratorium
- _Klinik
- _Fasilitas Olahraga
- _Mesjid
- _Perpustakaan
- _Auditorium
- _Internet Akses
- Layanan
- _Pertukaran Pelajar
- _Beasiswa
- _Keagamaan
- _Minat Bakat
- _Soft Skill
- _Kesehatan
- Akademik
- _Kalender Akademik
- _Kurikulum
- _Pedoman Akademik
- Riset & Pengabdian
- _Pengabdian
- _Haki
- _Kerjasama
- _Artikel & Sitasi
- Staff
- _Dosen Tetap
- _Dosen Tidak Tetap
- _Tenaga Kependidikan
- _Peningkatan SDM
- Mahasiswa & Alumni
- _Tracert Study
- _Mahasiswa
- _Prestasi Mahasiswa
- _Alumni
- Kontak
forgotten truth..
Muhammad Haramain
Jln. Hasanuddin RT.04 Karang Anyar
Kel.Kembang Sari Kec. Selong Lombok Timur NTB
–Makassar
Pendidikan:
SDN Mbungbasari, masuk tahun 1991 selesai tahun 1996
MTs.Nurul Haramain NW Narmada, masuk tahun 1996 selesai tahun 1999
MA Negeri Selong, masuk tahun 1999 selesai tahun 2002
Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor Fak.Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) 2002-2006
–sedang melanjutkan studi pasca sarjana di PPs Universitas Alauddin Makassar
Jurusan Dirasah Islamiyah Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi