Dakwah; sebuah transformasi teks menuju konteks

33. Banyak sekali pandai membaca
Tapi tak pandai mengkaji yang nyata
Kitab yang gundul dibaca nyata
Di kitab berbaris hatinya buta

(al-magfurlah TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiat renungan masa)

‘ala man taqra’ zabura? (Kepada siapa akan kau bacakan Zabur?)

Sebuah pepatah lama Arab ini sebagai kritik otoritas da’i yang senang mengatur bahasa dan menikmatinya, bahkan agar kedengaran intelek dan ilmiah, dan tak menyadari apakah umat mengerti apa yang disampaikannya. Kitab Zabur, yang diberikan kepada Nabi Daud As merupakan kitab yang jika dibaca mampu menggetarkan alam semesta, membuat burung-burung terlena hingga tak sadar terjatuh dari pohon tempatnya bertengger. Relevankah hari ini jika para praktisi dakwah menyampaikan dialektika dengan ‘bahasa Zabur’ yang indah, namun tidak mewakili kebenaran yang dipahami umat?

Hemat saya, re-orientasi dakwah abad ini harus membumi hingga ke akar-akar problematika umat. Umat seakan mulai jemu dengan cerita-cerita indah surga dengan segala kenikmatannya atau ancaman neraka yang berkobar-kobar apinya. Marilah sejenak berfikir tentang berteriaknya perut mereka yang berhari-hari tidak makan nasi, tentang retaknya keharmonisan rumah tangga, tentang anak-anak mereka yang menangis tak bisa sekolah, tentang moralitas yang sedang di-dikte acara-acara sinetron dan infotainment, tentang mereka yang berebut mengantri untuk mendapat zakat hingga harus ada yang meninggal, atau bahkan tentang mereka yang saling berebut kuota haji karena semakin banyaknya orang-orang Islam yang kaya namun sama sekali tidak berfikir tentang kemiskinan tetangganya..

Dimanakah letak titik equilibrium-nya (keseimbangan)? Para kader yang lebih memilih berceramah di rumah-rumah orang kaya dan mesjid-mesjid kantor yang terkenal tebal amplopnya, atau mereka yang rela berjam-jam mengunjungi undangan ceramah di mesjid kecil di perkampungan kumuh yang hanya diupah dengan secangkir teh dan ubi goreng?
Guru kita tercinta, Al-Magfurlah Maulana al-Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid, jauh-jauh hari sebelumnya memberikan wasiat di atas. Memang, beliau tidak menulis banyak buku seperti rekan-rekannya dahulu di madrasah al-Shaulatiyyah Makkah, padahal beliau sangat capable untuk itu. Ketika Syaikh Yasin berkunjung dahulu ke Pancor, dengan sangat rendah hati al-Magfurlah memuji prestasi beliau yang memiliki banyak karangan, namun apa jawaban Syaikh Yasin? “Engkau memang tidak menulis banyak kitab-kitab, sahabatku. Namun engkau telah menulis kebenaran di setiap jidat (dahi) umat, dan aku merasa tidak sedemikan berhasil sepertimu walaupun dengan banyak tulisan..”

Lihatlah sikap tawadlu’ mereka. Al-Magfurlah yang hingga akhir hayat beliau tetap mengunjungi jamaah walau hingga harus dipandu karena sudah tidak kuat lagi berjalan. Beliau yang tidak memilih-milih apakah tempat pengajian harus mewah atau terisi banyak jamaah. Pengajian beliau cukup di lapangan-lapangan dan mesjid-mesjid, namun kedekatan kepada jamaah sangat kekeluargaan. Cobalah sekali lagi kita berfikir, ulama sekaliber beliau,ikhlas berdakwah di bawah terik dan hujan yang hanya dinaungi tetaring (daun kelapa yang dianyam) yang sering bocor dan berlubang, namun lihatlah antusias jamaah yang merindukan nasihat dan kebersahajaan beliau.

Wasiat di atas juga mengkritisi para kader yang pandai membaca kitab gundul serta hapal ayat-ayat dan ratusan hadits, namun tak pandai membaca kitab berbaris nyata. Hemat saya, al-Magfurlah menyiratkan kitab berbaris sebagai idiom tentang realitas kehidupan. Kitab gundul merupakan panduan dan harapan. Sedangkan realitas kehidupan adalah kitab berbaris. Dan al-Magfurlah mengajarkan kita tentang kearifan dakwah yang men-sinergi-kan harapan dan kenyataan. Di dalam setiap metodologi ilmiah, setiap peneliti diwajibkan menemukan masalah penelitian serta selisih antara harapan dan kenyataan. Karena dengan itu dapat memudahkan transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Al-Magfurlah, sebagaimana konsep Hasan al-Banna, telah menggariskan konsep-konsep tsawabit (ketetapan) dan mutagayyirat (hal-hal yang bisa berubah) dalam paradigma (cara pandang) keberagamaan kita.

Realitas kehidupan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat NTB, tak lepas dari banyaknya problematika. Potret kemiskinan, Pendidikan yang mahal dan tak berkualitas, pengangguran intelektual, degradasi moral anak muda, transformasi zakat yang tidak profesional, tingginya kasus kawin-cerai, hingga moralitas pejabat yang merampas pundi-pundi kesejahteraan umat. Para kader hendaknya professional sebagaimana ajaran Rasul Saw; 

1. Khathibu’n Nas ala Qadri uqulihim (Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka), 
2. Khathibu’n Nas bilughati qaumihim (Serulah masyarakat dengan bahasa kaum mereka), 
3. Anzilu’n Nas manazilahum (Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka)

‘ala kulli hal, al-Magfurlah menginginkan kita lebih peka terhadap realitas dan memiliki sense of humanity (rasa kemanusiaan), sense of solidarity (solidaritas), sense of belonging (rasa saling memiliki), sense of responsibility (tanggungjawab), serta profesionalitas sebagai kader yang akan menjembatani transformasi harapan-harapan menuju kenyataan. Tugas kita bukan hanya pintar berdialektika dan lantang diatas podium, namun lebih dari itu mampu merasakan masalah-masalah umat dan mencari jalan keluar bersama. Idealnya, pada level inilah dakwah diistilahkan dakwah partisipatif

Makassar, 8 Oktober 2008