Bukan petunjuk bake’ belata!!!
Ataupun ceceta ramalan belaka
I’tiqad suci harus dijaga
(al-magfurlah dalam wasiat renungan masa)
Bake’ belata, sebuah istilah Sasak untuk Setan dan Jin yang jahat. Jika kembali kepada kisah para Jin jahat yang ‘mencuri’ ilham dari langit, sehingga ‘ditampar’ oleh petir Tuhan, maka merekalah yang mencoba memberikan pengetahuan ‘kebenaran’ yang mengalami proses saringan hawa nafsu dan kezaliman. Manusia secara tidak sadar bertaklid pada hembusan cerita-cerita mereka, seakan bahwa itulah suara Tuhan.
Selang beberapa tahun ini, umat muslim Indonesia dihentakkan dengan kabar-kabar ‘Bake’ belata’ itu. Ada Lia Aminuddin yang mengaku sebagai malaikat penyelamat bahkan mengaku sebagai wakil Tuhan. Ada juga yang mengaku sebagai Nabi penyelamat umat. Jika benar mereka mendapat ‘bisikan wahyu’ dari Tuhan, lalu malaikat mana yang berani melangkahi tugas Jibril menyampaikan risalah wahyu? Dimanakah letak kebenaran bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir dengan risalah yang telah sempurna sebagaimana ajaran Qur’an dan Hadits?
Bake’ belata, sekali lagi, adalah paling pintar berakting sebagai malaikat kepada mereka yang tidak jernih imannya. Iman adalah sesuatu sistem yang terstruktur dalam hati kita yang bukan bersumber dari pembenaran empiris (indera) semata. Ia adalah sebentuk keyakinan yang mengakui bahwa Allah itu ada dan tiada berbilang.
Harus diakui, kehebatan metodologi Barat dalam point of enquiry (penjelajahan) ilmu pengetahuan. Epistemology empirisme (baca=ilmu yang terstruktur tentang cara mendapatkan sesuatu dengan penginderaan) diagungkan sebagai salah satu metodologi pembenaran terhadap sesuatu. Lalu, benarkah itu jika ditinjau dari perspektif Islam? Metodologi itu bukanlah hal baru. Bahkan nabi Ibrahim pun dulu mencoba mengkajinya, namun ternyata tidak cukup meyakini sesuatu dari apa yang dia dengar, lihat dan rasakan. Simaklah kembali cerita al-Qur’an tentang pencarian Ibrahim, atau Musa yang ingin melihat Tuhan secara nyata. Para Nabi bertugas menyampaikan risalah dan menunjukkan kehebatan-Nya dalam dimensi mukjizat-mukjizat nyata. Semesta ini beserta isinya adalah bukti (approvement) adanya kebenaran yang mutlak (Allah).
Pelan-pelan namun pasti, Bake’ belata menggiring pemikiran kita pada klaim kebenaran yang berlandaskan pada epistemology empirisme ansich, bahwa kebenaran adalah apa kita lihat, dengar, rasakan bahkan apa yang kita fikirkan. Dan kita mungkin lupa, bahwa mata kita hanya mampu melihat seberapa jauh, telinga hanya dapat mendengar gelombang suara dengan batas tertentu, lidah juga memiliki batas bahkan akal kita pun tak luput dari keterbatasan. Keseluruhan indera hanyalah media pembuktian atas kebenaran ilmiah, tapi bukanlah standar kebenaran itu sendiri.
Simaklah kembali permintaan Musa dalam QS. Al-Baqarah ayat 260 ;
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
Terjemahnya :
Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)..
Bisikan Bake’ Belata sekarang bisa saja menjelma menjadi tulisan-tulisan di Surat kabar, Buku, Jurnal Ilmiah bahkan internet. Ia juga dapat menjadi tontonan-tontonan di televisi atau menghiasi siaran radio. Bake’ belata bahkan mungkin ikut mengalir pada ceramah ustad-ustad ‘instant’ yang semaunya menyitir ayat untuk kepentingannya, atau para politisi yang memberi janji-janji kemakmuran semu.
Iman seharusnya mengakar dalam diri kita dan mengalir bersama darah kita. Ia bukanlah sekedar polesan seperti lipstick atau jilbab modis nan seksi, ia bukanlah seperti jargon-jargon kampanye atau dialektika ceramah yang menawan namun tak berisi.
Bake’ belata bahkan telah merasuki anak-anak kita. Cobalah bertanya pada mereka yang acara mengajinya diganti dengan menonton TV, mereka yang mengganti waktu belajarnya dengan Playstasion. Siapakah manusia-manusia yang hebat? Jawaban mereka bisa saja beragam, dari Superman, Batman, Dragon Ball, Naruto, dll. Lalu, tanyalah mereka, apakah mereka kenal Ali bi Abi Thalib, Khalid bin Walid, Umar bin Al-Khattab, Shalahuddin al-Ayyubi atau bahkan Nabi Muhammad Saw sekaligus. Para pembaca bisa menebak sendiri jawaban mereka selanjutnya.
Bake’ Belata telah dan sedang merasuk ke dalam media yang di-impor ke Negara kita. Jepang membius anak-anak dengan film-film kartun heroik dan futuristik, India menyajikan film-film senandung dan goyangan khas yang melenakan, serta Eropa dan Amerika yang tak henti memproduk para akademisi dan pemikir yang menghasilkan karya-karya yang menjajah pemikiran kita bahkan mengaburkan iman kita. Pada tahap ini, cerita-cerita dalam film itu tak ubahnya merupakan ceceta ramalan belaka. Ceceta zaman ini dapat dipahami sebagai cerita dalam film dan redaksi tulisan ilmiah sekalipun,karena tidak berlandaskan al-Qur’an dan al-hadits.
Media, termasuk buku, TV dan internet, tak selalu negatif jika kita arif menyikapinya. Bahkan ia akan menjadi sarana yang mendukung dan menguatkan keimanan serta memajukan perdaban kita.
Bake’ belata zaman ini, tidak seperti yang dulu, dapat diusir dengan membaca ta’awwudz atau ayat kursi. Sekarang ia lebih sakti dan kebal karena telah berubah wujud menjadi ceceta yang meninabobokkan umat islam agar terus tertidur.
Lalu bagaimana cara mengantisipasinya?
Bait ke-empat syair ini, al-Magfurlah mengajarkan kita agar selalu menjaga I’tiqad suci kita. Karena ia adalah sebenar-benar benteng dan ajian pamungkas. I’tiqad yang harus selalu dipegang dan dilestarikan umat Islam, agar selalu berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi landasan para ulama mazhab ahlussunnah wal jamaah dan khususnya bagi warga Nahdlatul Wathan, juga dalam konseptualisasi mazhab al-Syafi’iyyah dalam fiqhi kita.
Semoga kita memahami bersama, mengapa kita ditradisikan al-Magfurlah untuk ber-I’tiqad dengan ahlussunnah wal jamaah dan ber-fiqhi dengan mazhab al-Syafi’iyyah..
Makassar, 16 Oktober 2008