Ilustrasi di atas mungkin terkesan negatif, namun dapat dipahami bagaimana seorang calon bawahan yang sadar dengan posisinya diterima di perusahaan itu. Demikian pula jika mengkaji posisi kita di hadapan Tuhan, bahwa kita semua adalah hamba Tuhan, hamba yang harus menyadari posisi (hak dan kewajiban).
Di negeri ini, kaum muslim memiliki budaya buka puasa bersama. Di sebuah komunitas Ikatan Pelajar Mahasiswa Lombok-Makassar (IPMLM) di sudut kota Makassar berkumpul para calon dokter, insinyur, politisi, pilot, tentara, polisi, dosen, dll. Masing-masing memiliki profesi berbeda dan berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Sejenak, suasana di rantauan begitu syahdu dan akrab. Tidak ada satupun menyombongkan atribut-atribut “administrative” bikinan manusia, semua dalam posisi kesadaran sebagai manusia..
Kiai, Politisi, Dosen, dll adalah atribut administrative, masih memiliki peluang besar untuk berbuat zalim atau korupsi. Jika atribut itu semua dilepas, dan kembali menyadari posisi sesungguhnya, bahwa bukan “apa” (profesi) kita, tetapi “siapa” (manusia) kita?? Akankah masih ada yang berniat berbuat zalim dan korupsi??
Kita, di bulan Ramadlan ini dididik untuk berdisiplin. Saatnya magrib, berbukalah. Jika sudah imsak, jangan coba-coba makan minum lagi. Dan Tuhan pun membuat ketentuan yang alami dan universal, bukan karena Jenderal maka ia harus berbuka lebih dahulu, atau Presiden maka ia boleh makan sampai melebihi imsak..Tuhan ingin kita menyadari posisi kita, bahwa kita semua sama di hadapan-Nya.
Sungguh sangat sempit jika diartikan beribadah maksimal di bulan Ramadlan dan menafikan bulan-bulan yang lain. Itu istilahnya “puasa mekanis”, hanya taat dan alim saat Ramadlan, tapi jika ia berlalu, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama.
Tengoklah para artis yang di infotainment, ada yang bilang, “sekarang kan bulan puasa, jadi saya dan kekasih saya sementara waktu tidak sering-sering bersama dulu, dan menutup aurat, biar lebih khusyuk puasanya..” atau para politisi di senayan yang mengurangi aktifitas kampanye (atau mungkin karena takut berdusta di bulan puasa ya?),dll.. kita terbiasa “menjaga ramadlan” dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, namun setelah usai, dilakukan lagi. Lalu apakah ini yang digariskan Tuhan?
Aah, semakin banyak tulisan juga bisa bikin prasangka yang tidak baik untuk orang (takut dosa, kan Ramadlan..hehe).
‘ala kulli hal, sebuah riwayat menyebutkan;
رحمه الله امرءا عرف نفسه من أين,وفى أين وإلى أين...
“Allah merahmati seseorang yang menyadari ia darimana, sedang dimana dan hendak kemana..”
Riwayat itu mengingatkan kita agar memiliki kesadaran ontologis (darimana), historis (sedang dimana) dan aksiologis (hendak kemana). Dan jika kita memilikinya, maka kita akan menjadi ‘manusia’ yang sesungguh-sungguhnya manusia..
Semoga dapat kita ambil pelajaran, amin..
Makassar, 23 Ramadlan 1429 H