Dikisahkan ada 4 mahasiswa kuliah doctoral di Australia. 4 sahabat ini bertemu dengan nasib dan perjuangan intelektual mereka. Masing-masing berasal dari Negara yang berbeda. Sebutlah Akira dari Jepang, John dari Filipina, Rakesh dari India dan Hamdan dari Indonesia.
Background mereka yang berbeda tampak dalam keseharian mereka. Akira dari Jepang, adalah seorang yang sedikit bicara tapi banyak kerja. Rakesh dari India, dikenal banyak bicara, tapi sambil giat bekerja. John dari Filipina dikenal terlalu banyak bicara tapi sedikit kerja. Dan yang paling unik dari empat sahabat ini adalah hamdan, berasal dari karakter bangsa yang dikenal “lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan..!!”
Ilustrasi di atas disampaikan penulis sebagai starting point tulisan ini yang mendeskripsikan ‘frame’ kemajuan suatu bangsa. Menurut pembaca, diantara mereka, siapa yang berasal dari bangsa yang paling payah?
Akira, di negaranya menyembah matahari. Rakesh di kampungnya menyembah patung. Sedangkan John, mungkin menyembahTuhan yang lain atau tidak sama sekali. Dan Hamdan adalah seorang muslim sejati, katanya. Sejak nenek moyang memang muslim..
Pertanyaan yang muncul adalah ada apa yang salah dengan bangsa ini yang punya penduduk Muslim terbesar di dunia?
Awal 70-an, intelektual dari IAIN menganalisis bahwa perkembangan bangsa yang tersendat-sendat ini karena paham akidah yang kita punya terlalu ‘jabariah’(menyerahkan semuanya kembali kepada Allah). Sedikit-sedikit ‘takdir’, atau memang ‘nasib’ lalu mau dibilang apa lagi. sedangkan kalau kita bongkar system akidah, diantara mereka, siapa yang punya akidah yang sistematis, logis dan metodologis?
Menurut hemat penulis, disini bukan terletak pada masalah akidah, tapi pada frame “social engineering” (rekayasa social). Sejak dulu, kita sering ikut pengajian, ta’lim, dll. Lalu kenapa bangsa ini kok gak maju-maju ya? Bukankah Islam itu bukan saja urusan langit, juga pokok ajaran yang ngurus masalah ‘perut” sedetail-detailnya. Kita, sejak dulu hanya “di-ta’lim” (pengajaran) melulu, gak pernah “di-tadbir” (manajemen).
Mungkin tulisan ini “terbaca” sedikit ekstrim, terdengar banyak mengeluh dan agak inferior. Namun, inilah realitas. Posisi muslim Indonesia sangatlah dilematis. Sumber daya yang melimpah, tapi ngurus kasus korupsi, pajak, tenaga kerja, dll tidak beres-beres. Bagi-bagi zakat saja harus ada yang ‘mati’, bagi-bagi sembako pun harus ngantri berjam-jam. Inilah bangsa yang penduduk miskinnya sampai 34 juta (datanya SBY-JK), tapi untuk pergi naik haji, orang-orang harus saling sikut kiri-kanan supaya dapat kuota, karena orang yang mampu berhaji meningkat drastic tiap tahun, walau mungkin naik haji berkali-kali..
Lalu, apa korelasi antara banyaknya penduduk miskin dengan naik haji di Indonesia?
Sekali lagi, kita hanya dita’lim, tidak ditadbir. Proses transformasi ajaran Islam selama ini hanya berorientasi pada masalah akhirat. Tapi, dinding antara kaya dan miskin sangat tinggi.
Ustad-ustad hadir layaknya polisi lalu lintas, seraya teriak,”itu haram, ini wajib. Itu dosa, ini pahala!!”. Memangnya, surga dan neraka punya mereka? Sejatinya, menurut penulis, para Da’i adalah “makelar akhirat”, “makelar transformasi social”, bukan seperti Polisi Lalu Lintas!!
Harus ada re-konseptualisasi metodologi dakwah dan cara ber-Islam kita, menurut hemat penulis. Umat harus diajak berfikir, bukan dijejali dengan iming-iming surga atau diancam neraka. Sembari para intelektual Muslim bekerja dan mengatur manajemen ke-Islam-an kita, mengatur zakat, memberdayakan ekonomi umat, mengontrol media, optimalisasi pendidikan, dll..
Sehingga, berbicara surga dan neraka, sungguh sangatlah jauh. Mungkin lebih dekat kalau para ustad mengajak umat memperhatikan tetangga, pergaulan dan pendidikan anak-anaknya, mencari nafkah dengan cara yang elegan (halalan thoyyiban), bersedekah jika merasa mampu, dll..
Mungkin tulisan ini terlalu garing, tapi inilah selisih antara harapan dan kenyataan.
Dalam sebuah riwayat, Rasul Saw telah memerintahkan Fatimah, agar jika memasak lauk, perbanyaklah airnya. Sehingga bisa dibagi ke tetangga, walau cuma kuahnya saja, karena dagingnya sedikit..
Lalu, jika ada orang naik haji, trus ada anak tetangganya tidak bisa beli buku, atau masih mendengar tetangga yang anaknya menangis meminta makan tapi tidak ada beras, maka sungguh, tidak diterima haji-nya. Dengan alas an-alasan tersebut. kalau boleh sedikit garing seperti ustad “Polisi”, maka, haram hukumnya bagi orang itu naik haji..!!
Semoga Ramadlan tahun ini, memberikan kesadaran dan ampunan bagi penulis khususnya, dan pembaca sekalian. Amin..
Makassar, 20 Ramadlan 1429 H.
Main Menu
- Home
- Profil
- _Visi, Misi & Tujuan
- _Renstra
- _Arah Kebijakan
- _Struktur Organisasi
- Fasilitas
- _Laboratorium
- _Klinik
- _Fasilitas Olahraga
- _Mesjid
- _Perpustakaan
- _Auditorium
- _Internet Akses
- Layanan
- _Pertukaran Pelajar
- _Beasiswa
- _Keagamaan
- _Minat Bakat
- _Soft Skill
- _Kesehatan
- Akademik
- _Kalender Akademik
- _Kurikulum
- _Pedoman Akademik
- Riset & Pengabdian
- _Pengabdian
- _Haki
- _Kerjasama
- _Artikel & Sitasi
- Staff
- _Dosen Tetap
- _Dosen Tidak Tetap
- _Tenaga Kependidikan
- _Peningkatan SDM
- Mahasiswa & Alumni
- _Tracert Study
- _Mahasiswa
- _Prestasi Mahasiswa
- _Alumni
- Kontak
Muslim Indonesia; sebuah kritik diri
Muhammad Haramain
Jln. Hasanuddin RT.04 Karang Anyar
Kel.Kembang Sari Kec. Selong Lombok Timur NTB
–Makassar
Pendidikan:
SDN Mbungbasari, masuk tahun 1991 selesai tahun 1996
MTs.Nurul Haramain NW Narmada, masuk tahun 1996 selesai tahun 1999
MA Negeri Selong, masuk tahun 1999 selesai tahun 2002
Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor Fak.Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) 2002-2006
–sedang melanjutkan studi pasca sarjana di PPs Universitas Alauddin Makassar
Jurusan Dirasah Islamiyah Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi