elang dan anak-anak ayam; siapa kalah?

Dimana dan akan kemana Indonesia? Demikian tema opini Ahmad Syafii Ma’arif di harian Kompas (Sabtu, 18 Oktober 2008). Sebagaimana kutipannya dari buku Fareed Zakaria “The Post American World” (Mei 2008), bahwa tahun 1981 ada sekitar 40 persen penduduk dunia dengan penghasilan hanya satu dollar AS per hari, tahun 2004 tinggal 18 persen. Diharapkan pada tahun 2015 akan menurun sampai 12 persen. Di sisi lain, seorang Penulis Perancis, Emmanuel Todd dalam buku terkenalnya di tahun 2002: After the empire ; The breakdown of the American order, meramalkan keruntuhan AS. Prediksi Todd itu memiliki tolok ukur kuat pada prediksi sebelumnya terhadap keruntuhan Uni Sovyet tahun 1975 yang terbukti. 

Analisis Pak Ma’arif terhadap dua karya amat menarik. Jika todd meramalkan bahwa AS tinggal menunggu waktu runtuhnya, maka Fareed Zakaria beragumen sebaliknya. Argumen Zakaria tentang the rise of the rest (munculnya pusat-pusat kekuatan baru) yang akan menyaingi, bahkan akan mengalahkan AS, khususnya di bidang ekonomi dan investasi. AS bukan akan runtuh sebagai bangsa dan Negara, tetapi akan tertinggal dengan sejarah ‘kesombongan adidaya-nya’. Bukankah sekarang dana investasi terbesar di planet bumi ini ada di Abu Dhabi, pusat industri film terbesar di dunia bukan lagi di Hollywood (LA, Amerika), melainkan di Bollywood (Mumbai, India)? Gedung tertinggi ada di Taipei, sebentar lagi di Dubai. Perusahaan publik terbesar bukan lagi di New York, tapi di Beijing. Pesawat penumpang terbesar dibuat di Eropa, bukan di AS.

Dengan demikian, ke-adikuasa-an AS pasca perang dingin telah berakhir. Meski dalam segi militer, AS masih kuat, hulu ledak nuklirnya berjumlah 830 jika dibandingkan dengan China hanya 20. Ibarat seperti burung elang yang memiliki paruh tajam dan kuku yang kuat,tidak lagi ‘berkuasa’ terhadap anak ayam, karena anak ayam telah dan sedang tumbuh menjadi pejantan tangguh dengan taji dan kokoknya yang membuat elang kehilangan pamor kehebatannya. Sang elang sibuk mengasah kuku dan paruhnya seraya berkeliling ‘ronda’ dan menakut-nakuti makhluk lain. Ia lupa, anak ayam pun bisa tumbuh menjadi pejantan yang memiliki tubuh yang lebih besar dan taji yang lebih tajam.

Hegemoni ‘kemenangan’ AS dalam media.
Hemat saya, kampanye Obama-McCain tak ubahnya seperti film-film heroik AS yang jumawa atas kemenangan ‘palsu’ atas Vietnam. Produk-produk film Hollywood seperti Rambo, Faith of my fathers, dan sekian film-film tentang kehebatan AS di Vietnam hanyalah sekedar fairytales (dongeng) untuk me-ninabobok-kan bangsa-bangsa berkembang. Fairytales tentang kehebatan AS lainnya seperti di Libya, Sudan, Iraq, Afganistan, Kuba, dan lain-lain, sebentar lagi akan terhapus dengan sendirinya di buku-buku sejarah. Negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin kini sedang berlomba bangkit dari tidur panjang itu. Sebagaimana teori umum dalam metodologi kritik sejarah, bahwa fakta sejarah takkan pernah berubah, kecuali interpretasi kita terhadapnya yang bisa berubah-ubah. 

To be continued..